Alasan Remeh untuk Mencintai Seseorang



Mahasiswi saya yang bengal ini rela memacu skuter maticnya, 6 jam melawan panas dan hujan, ke sebuah koordinat di Pantura demi menengok pacarnya, mahasiswa fakultas perikanan yang lagi mengadakan penelitian di sebuah perusahaan tambak udang. Kalau ditotal dengan perjalanan baliknya, tak kurang dari 15 jam dia habiskan demi memuaskan rasa rindunya. 

Mencintaimu

"Apa yang kamu rindukan?"
"Ya lucunya, manisnya, cueknya, ketenangannya menghadapi situasi... Bersama dia saya selalu tertawa, Sir!"
"Kamu tahu kejelekan dia?"
"Oh, banyak, Sir. Lagipula hubungan kami ini ditentang oleh ibunya."
"Tapi kamu bertahan? Untuk apa?"
"Untuk hal-hal yang saya rindukan itu... Saya ini orangnya panikan, ngamukan, mudah putus asa... Kalau ada dia seolah lenyap semua persoalan saya."


**************

Menempuh perjalanan panjang yang penuh bahaya, menanggung risiko penolakan keluarga pacarnya. Tahu persis keburukan-keburukan si dia. Tapi bertahan. Demi hal-hal yang dirindukannya, hal yang sebetulnya demikian remehnya dan tak sebanding dengan apa yang harus dikorbankannya. Tapi bukankah hal-hal remeh seperti itu yang acap kali kita pegang teguh dalam mencintai seseorang? Demi secuil harapan, demi sedikit kesejukan, demi sepenggal keceriaan, saya dan sampeyan rela menepis risiko dan aneka rintangan. Apapun saya dan kalian jalani demi mempertahankan mereka yang kita cintai.

Anehnya, setelah kita lolos melompati batu ujian dan hidup berpasang-pasangan, situasinya kerap kali jadi antiklimaks. Yang manis-manis dan bikin rindu tadi kita lupakan, dan kita mulai fokus pada hal-hal yang memuakkan, yang kita data dan kumpulkan untuk memojokkan dia, untuk membuat orang itu merasa bahwa dia adalah biang kesengsaraan dan kegagalan hidup kita.

Andai saya dan sampeyan sudi menyimpan pernak pernik memorabilia nostalgia lama masa pacaran dan menyematkannya di album terindah, di bingkai emas, di tempat yang paling mulia dalam kebersamaan kita dengan mereka, insyaalloh antiklimaks itu tak perlu terjadi. Kita dengan sadar sudah memilih mereka mengalahkan sekian belas atau puluh kandidat lainnya. Menyayangi mereka meski sadar dirinya penuh cela. Mencintai dan mempertahankan mereka justru karena konyolnya, karena culunnya, karena kumal dan miskinnya... insyaallah sesal dan hujatan itu tak akan pernah ada. (Arif Subiyanto)


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Alasan Remeh untuk Mencintai Seseorang"

Posting Komentar