Cara “Menjual Diri" Sebagai Penerjemah



Mahasiswi yang satu ini bener-bener pengin terjun jadi penerjemah. Dia sudah siap mental, siap modal kamus, buku-buku grammar, laptop, scanner, printer & modem. Sudah punya tim yang solid pula. Sudah mendesain logo biro jasa terjemahan dan bikin brosur full color untuk usahanya itu. Lha terus kurang apa lagi? "Begini, pak? Bagaimana cara saya mengiklankan biro saya ini?"

Kamus

Oalahhh, senenge kok repot. Silakan sampeyan jalan-jalan keliling kampus. Bawa brosur sebanyak yang kau mau. Tak usah bengok-bengok menawarkan jasa penerjemahan. Kunjungi kantin di tiap fakultas. Diam-diam taruh beberapa brosur di sana sambil pura-pura jajan. Taruh di bangku atau meja kosong. Taruh di dekat keramaian.

Kunjungi gedung pasca sarjana, di sana banyak mahasiswa pasca dari tingkat S2 atau S3 yang lagi meratapi nasibnya karena tidak menguasai bahasa Inggris dan butuh penerjemah. Letakkan setumpuk brosur di dekat mereka yang lagi OL di pusat hotspot atau wifi. Taruh begitu saja dan tinggalkan. Pergilah ke food court di Kopma, taruh brosurmu di sana!

Jangan berhenti sampai di situ saja. Monggo, silakan blusukan ke kampus-kampus tetangga, lakukan hal sama: taruh brosurmu di meja atau bangku kosong. Mahasiswa bisa saja mengabaikan brosur salon kecantikan atau brosur omong kosong lainnya, tapi kalau ada brosur biro penerjemah, kemungkinan besar mereka akan menyimpannya, terlebih mahasiswa pasca sarjana.

Buktikan omongan saya, saya jamin dalam waktu kurang dari seminggu sampeyan pasti dapat telepon atau SMS dari orang yang butuh penerjemah. (Arif Subiyanto)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Cara “Menjual Diri" Sebagai Penerjemah"

Posting Komentar