Jadi Penerjemah Itu Tak Selalu Manis



Kapan saya pernah cerita melulu tentang enaknya rupiah dari terjemahan? Buat apa saya ceritakan susahnya cari duit via terjemahan? Mahasiswa saya dan rekan-rekan seprofesi sudah tahu susahnya jadi penerjemah: mereka mengorbankan segalanya: waktu, tidur, otak, energi, kesehatan... they are fully aware of the dire consequences of their choices.

Dari latihan-latihan di kelas dan tugas-tugas translation itu saya tahu para mahasiswa sudah merasakan betul sulitnya pekerjaan ini. Baru menerjemahkan beberapa lembar artikel saja sudah setengah mati. Bagaimana kalau pekerjaan itu berupa sebuah novel atau buku? Mereka sudah tahu susahnya.

Menjadi Seorang Penerjemah

Berapa banyak sih orang yang ngayal bisa hidup kaya dari terjemahan? Mereka yang terinspirasi untuk mengikuti jejak kami sebagai penerjemah adalah mahasiswa dengan ekstra stamina. Mereka tertantang untuk bekerja lebih keras di atas kapasitas rata-rata. Mereka yang suka membaca dan hobi menulis. Mereka yang terpesona pada indahnya dunia kata-kata. Saya realistis saja, tak banyak mahasiswa yang tertarik untuk menekuni pekerjaan ini. Dan mereka yang terinspirasi sudah sepenuhnya mengerti apa yang akan mereka hadapi.

Pekerjaan penerjemah sangat susah, itu saya akui. Tapi banyak yang berhasil dan hidup berkecukupan dari profesi ini. Saya tinggal colek nama mereka, maka orang-orang itu akan bersaksi.

Pekerjaan yang mudah sebenarnya banyak. Jadi foto model majalah dewasa, jadi artis serba bisa (bisa segala-galanya)--nanti kalau sudah redup hokinya, mereka bisa mencalonkan diri jadi caleg. Bisa juga mereka jadi tim sukses: bermain tipu mata memoles-moles belangnya politisi. Yang busuk disulap jadi wangi. Yang pengecut dicitrakan sebagai pahlawan yang tegas. Yang berlepotan dosa bisa dipuja layaknya nabi... (Arif Subiyanto)


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Jadi Penerjemah Itu Tak Selalu Manis"

Posting Komentar