Memberi Maaf Meski Ia Tak Mengakui Keselahannya



Sebenarnya saya sudah memaafkan dia, tapi saya biarkan dia salah tingkah atau berlagak angkuh menutupi kesalahannya di depan saya. Buat apa sok dermawan dan bersikap santun kepadanya, toh dia tidak pernah mengakui kesalahannya.

Memberi Maaf

Pengalaman hidup sudah mengajarkan kepada saya: butuh waktu yang amaaat lama untuk mengobati hati yang terluka. Kadang diperlukan kejadian tragis untuk menyadarkan dua manusia yang berseteru bahwa sejatinya mereka sama-sama punya kelembutan.

Kalau sekarang dia bersikap seperti penghuni rimba, itu mutlak urusan dan aibnya sebab menjalani ketololan memang bagian dari hak asasi manusia, sebagaimana saya sendiri pernah mengalami ketololan yang sama. Yang jelas dan pasti, hati saya bersih dan memaafkan dia.

Memberi 'maaf' tak mesti berarti merendah dan membiarkan harga diri dikangkangi. Bagi saya 'maaf' bisa berarti 'maklum' bahwa orang yang bersangkutan memang punya kebutuhan khusus yang sulit diobati, kecuali si penyandang ketunaan itu menyadarinya. Saya bersedia mengubah definisi maaf saya kalau suatu hari dia paham dan mengerti bahwa ketololan dia sudah melampaui batas kewajaran manusia yang sehat rohaninya. (Arif Subiyanto)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Memberi Maaf Meski Ia Tak Mengakui Keselahannya"

Posting Komentar