Memfantasikan Sahabat, Apakah Wajar?



Dua atau tiga bulan silam seorang karib saya bertanya: "Is it normal for a man to sexually fantasize his close female friends?" Saya jawab itu normal banget. Urusan berfantasi secara seksual bukan hanya dominasi sesama sahabat, tapi bisa juga sesama rekan kerja, antara pembantu dengan majikannya, antara murid dan gurunya, antara pedagang dengan langganannya... Semua ini manusiawi adanya. Wajar sewajar-wajarnya.

berfantasi
Kembali ke soal memfantasikan sahabat. Kedekatan, keterbukaan dan keterikatan emosional dari dua manusia yang berkawan kadang mendatangkan desir romansa atau erotisme. Kalau ada chemistry dan getaran yang seirama pada kedua anak manusia itu, jadilah. Tak jarang pernikahan atau komitmen hidup bersama juga diawali oleh persahabatan. Tinggal sampeyan saja mau menuruti hasrat itu atau tidak.

Tapi sebelum membiarkan diri hanyut ke dalam pusaran cinta antar sahabat, pikir seksama baik-buruknya. Apa untungnya, apa ruginya. Untungnya banyak: kalian bisa saling mengeksplorasi sebab kalian punya modal yang sangat berharga: saling memahami. Saling mengerti kebutuhan, fantasi, obsesi, trauma dan pantangan masing-masing. Ruginya? Banyak sekali... persahabatan kalian jadi terkontaminasi. Dan kalian bukan sahabat lagi, melainkan kekasih atau tempat pelarian semata. Lembat laun kalian akan menjadi penyakit jiwa dan pembawa masalah bagi satu dan lainnya. Dan persahabatan yang sudah terpolusi oleh nafsu mustahil bisa kembali murni.

Saya jadi ingat seorang perempuan sahabat saya semasa kuliah dulu. Tiap kali kepala pusing saya ke rumahnya, curhat sampai larut malam. Dia sudah tahu banyak tentang saya, dan saya teramat mengenal dirinya, visi hidupnya, lelaki tipenya, dambaannya, bahkan fantasi-fantasi liarnya. Pada suatu sore hari sahabat saya itu menangis karena kangen pacarnya yang bekerja di kota lain. Dia sudah tak bisa ngempet lagi rasa rindunya, dan malam itu pula dia minta diantar menyambangi kekasihnya. Apa boleh buat, berdua kami naik bus berangkat jam 4.30, sampai kota tujuan sekitar jam 7 malam. Saya antar dia ke rumah kost pacarnya, kami ngobrol bertiga dengan akrabnya. Jam 9 malam kami berkemas pulang.

Pada perjalanan pulang teman saya itu masuk angin dan ambruk. Saya biarkan dia tidur di pangkuan saya, saya pijit-pijit dia, saya oleskan minyak angin ke leher dan bahunya. Karena dia terus menangis saya belai-belai dia, saya ceritakan hal-hal yang konyol sampai dia tertawa. Pasti sampeyan bertanya: tidakkah saya pernah berfantasi tentang dia? Tentu saja pernah, tapi buru-buru saya sadar bahwa saya bukan tipenya. Dia juga tahu perempuan macam apa idaman saya. Lebih dari itu saya tidak mau kehilangan persahabatan yang begitu indahnya. Kalaupun kami sama-sama khilaf dan edan, pasti yang ada hanya sesalan, dan saya berubah menjadi masalah hidupnya...

Teman saya itu sudah menikah dengan lelaki pujaannya. Sesekali kami reuni. Di depan anak istri saya dan disaksikan suami serta anak-anaknya dia masih sering memeluk saya berlama-lama. Bagi saya itu adalah kesaksian betapa persahabatan kami dulu memang tulus dan saling menguatkan. (Arif Subiyanto)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Memfantasikan Sahabat, Apakah Wajar?"

Posting Komentar