Merencanakan Hidup, Mengantisipasi Penyakit Hati



Hidup harus direncanakan. Tak usahlah kelewat muluk memikirkan planning puluhan tahun ke depan, meski itu juga musti dilakukan. Mari kita berpikir yang praktis saja. Cukup rencanakan hari ini anda mau hidup seperti apa, anda bakal kaget melihat banyaknya hal yang perlu dipikirkan, dibenahi, ditingkatkan kualitasnya, dimodifikasi, dikoreksi dan direnungkan kembali:

- Saat meninggalkan rumah, bagaimana anda berpamitan atau mengucap salam perpisahan dengan suami/istri? Maniskah kesan yang sampeyan tinggalkan? Atau sampeyan berdua ngeloyor pergi cuek dengan urusan sendiri-sendiri?

rencana hidup

- Sampai di jalan raya bagaimana anda menyikapi geriap manusia dan kendaraan yang menyemut saling sikut berebut duluan? Siapkah anda memaklumi kemacetan panjang, atau seperti biasa sudah bersiap adu otot main klakson dan mengumbar makian?

- Menuju tempat kerja sudahkah anda mengantisipasi masalah dan berbagai kejutan? Siapa orang pertama yang anda temui di koridor atau parkiran? Kalau anda ketemu kolega yang menyebalkan, haruskah berpura-pura ramah demi menjaga keharmonisan lingkungan atau berjalan menunduk seakan anda melintasi kuburan?

- Berapa orang yang harus anda kasihani, anda maafkan dan anda maklumi keanehan dan kesintingannya? Haruskah anda main gebrak meja atau tersenyum penuh pengertian kalau ada ketidakberesan?

- Sempatkah anda say hello pada pasangan yang di rumah atau sibuk di tempat kerjanya? Saling mendoakan, saling merindukan? Atau berharap dia kerja lembur dan tidak pulang sebab pada dasarnya mahluk itu memang sudah memuakkan?

- Usai jam kerja nanti apakah anda memutuskan bergegas pulang atau lebih suka cuci mata di pusat perbelanjaan? Adakah sesuatu di hunian anda yang membuat hati rindu ingin segera pulang? Anak-anak yang manis, hewan piaraan, koleksi tumbuhan atau benda-benda kesayangan anda yang butuh sentuhan? Pernahkah anda merasa mulas kalau memikirkan kondisi rumah yang berantakan, teman hidup yang menyebalkan, tidak sevisi, beda pemikiran? Dia yang tak simpatik lagi dan terlalu banyak tuntutan?

- Dan malam hari nanti akankah anda merasa tenteram di rumah yang susah payah anda bangun atau anda cicil, merenungi segala prestasi atau kegagalan hari ini sambil berintrospeksi, memaafkan apa yang terjadi dan berjanji esok akan memperbaiki diri? Ataukah semua ini anda anggap sama saja, monoton, bikin jenuh dan mengusik pikiran?

Persepsi atau cara anda menyikapi, merespons dan memperlakukan orang sekitar dan segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari sangat memengaruhi kesejahteraan jiwa anda. Luangkan waktu untuk memikirkannya, mencari strategi atau siasat terbaik untuk menghadapi semua itu. Jangan pikirkan salah atau benar: pokoknya pastikan hidup anda selalu senang dan tenang, syukur-syukur berfaedah bagi lingkungan. (Arif Subiyanto)


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Merencanakan Hidup, Mengantisipasi Penyakit Hati"

Posting Komentar