Kisah Ketegasan Seorang Kepala Negara



Kalian kenal Brad Pitt? Pasti. Arnold Schwarzenegger? Jelas. Madonna? Kebangeten kalau enggak. Bill Gates? Apalagi yang satu itu. Sekarang saya tanya lagi: kenal James Meredith? Belum tentu! Nah, manusia satu ini bukan pahlawan, bukan penemu, bukan patriot, bukan pula industriawan Amerika. Dia warga biasa, tapi kisah hidupnya sungguh menghebohkan, sebab dia adalah mahasiswa kulit hitam pertama di Amerika Serikat bagian selatan, tepatnya di negara bagian Mississippi.

 James Meredith
James Meredith

Just in case you didn't know, beberapa negara bagian di selatan A.S (yang lebih dikenal dengan sebutan The South) hingga tahun 1950'an masih menganut politik segregasionis alias apartheid. Sekilas kalian pasti sudah ngerti tentang politik diskriminasi terhadap warga kulit hitam. Perlakuan itu sebenarnya bukan dilatarbelakangi oleh paham bahwa orang-orang asal Afrika itu secara genetik inferior atau berasal dari kasta hina. Persoalannya sepele saja, motif ekonomi: para elit politik di Selatan (misalnya Alabama atau Mississippi) yang sekaligus merupakan petani besar dan tuan tanah, butuh pasokan tenaga kerja murah, dan siapa lagi yang bisa dieksploitir darah dan keringatnya kalau bukan warga kulit hitam? Inti persoalannya itu saja sebenarnya.

Singkat kata, orang-orang kulit hitam keturunan budak dari Afrika pada jaman Amerika masih menjadi koloni Inggris itu masih dijadikan warga kelas 2 di Amerika Serikat hingga tahun 1950 atau 1960'an. Salah satu praktik politik apartheid yang paling menyolok adalah penyelenggaraan pendidikan yang segregasionis: ada sekolah khusus untuk anak-anak kulit putih dan kulit hitam, dari tingkat SD sampai Universitas. Pasca Perang Saudara Amerika, praktik perbudakan sebenarnya sudah dihapuskan, dan warga kulit hitam sudah menikmati kebebasan dan persamaan hak--kecuali di wilayah-wilayah Selatan.

Tersebutlah seorang pemuda pintar bernama James Meredith. Rekam jejak akademiknya gemilang dari SD sampai SMA. Celakanya, dia berkulit hitam. Warga Mississippi ini dua kali mendaftar ke Univeristas Mississippi di kota Oxford, dua kali pula ditolak karena alasan rasialis.

Ketetapan MA Amerika Serikat jelas-jelas mengamarkan semua fasilitas pendidikan di Selatan harus terintegrasi: antara peserta didik kulit hitam maupun kulit putih tidak boleh dibeda-bedakan dan dipisahkan. Peraturan itu juga berlaku pada Universitas Mississippi. Pada tahun 1962, pengadilan federal memutuskan James Meredith harus diterima sebagai mahasiswa di sana. Untuk menghadang langkah James Meredith, Gubernur Mississippi Ross Barnett yang rasialis itu lewat televisi mengumumkan akan menutup semua universitas negeri yang menerima Meredith. Tak kurang dari Presiden John Kennedy dan Jaksa Agung Robert Kenney dibuat repot oleh sikap gubernur yang mbalelo itu. Mereka memanggil Barnett untuk bernegosiasi di Washington. Karena gagal berunding, Presiden melalui pemerintah federal melakukan tindakan paksa.


Pada hari yang ditentukan satu pasukan U.S. Marshal mengawal Meredith ke kampus Universitas Mississippi di kota Oxford. Kelompok-kelompok penentang sudah terlebih dahulu menggalang kekuatan dan menduduki kampus Mississippi. Pada tanggal 30 September, sehari sebelum Meredith tiba di kampus itu, pasukan U.S. Marshal menduduki lokasi kampus dan mengepung bangunan administrasi. Tak kurang dari 2.500 mahasiswa memprotes kehadiran tentara di sana dan kericuhan pun tak bisa dihindarkan. Pasukan Marshal menggunakan gas air mata untuk memecah konsentrasi massa, namun tindakan itu mendapat kecaman dari mana-mana.

Pada pukul 10.00 malam pasukan Marshal ditarik ke pusat kota untuk meredam kerusuhan. Pemerintah segera mengirimkan 20,000 tentara dan 11,000 pasukan Garda Nasional ke kota Oxford. Sebanyak 300 perusuh ditangkap. Meredith memutuskan untuk bertahan di kampus dengan perlindungan pasukan U.S Marshal dan 300 prajurit, dan akhirnya dia lulus dari universitas itu. (Arif Subiyanto)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kisah Ketegasan Seorang Kepala Negara"

Posting Komentar