Menghadapi Istri yang Egois, Tidak Patuh, dan Kasar



Q: Pak, abang saya nitip pertanyaan buat bapak (secara dia enggak punya akun fesbuk sendiri). Abang sudah nikah 19 tahun, tapi hidupnya tak pernah rukun dengan bininya. Mereka kerap bertengkar. Menurut abang, tabiat bininya buruk: egois, tidak patuh dan mulutnya kasar. Abang saya tidak tahan lagi pak, sebab dia sekarang mulai jantungan. Pengin sih hidup bebas dari istrinya, tapi dia takut anak-anaknya bakal terluka (3 orang: 1 di SMK, 1 di SMA, 1 hampir sarjana). Abang saya mengaku 'letih' menghadapi istrinya, dan pengin hidup tenang di hari tuanya. Menurut bapak bagaimana?

Istri yang Jahat

A: Menurut saya, abang sampeyan ini lucu alias jenaka. Sudah 19 tahun hidup ribut sama bininya kok baru sekarang mau lempar handuk ke tengah arena. Maunya apa? Kawin lagi sama perempuan yang menyenangkan hati dan kupingnya? Silakan dicoba, tapi saya nggak jamin dia bahagia. Cinta matinya abang sampeyan tak lain ya hanya bininya yang beringas itu. Betapa tidak, sambil bertengkar rutin saja mereka bisa terus bikin momongan sampai tiga! Edan toh? Itu pertama. Yang kedua, kalau memang abang sampeyan ditakdirkan tewas jantungan karena ulah bininya, seharusnya itu sudah terjadi pada tahun-tahun awal perkawinan mereka. Abang sampeyan tidak bersyukur: watak judes istrinya itu ibarat pil koplo yang menyehatkan otot-otot jantungnya.

Jadi kalau boleh saya simpulkan, pasangan itu sudah jodoh. Yang jadi persoalan, mereka sudah terlalu tua untuk belajar mengekspresikan kasih sayang dan isi hati dengan cara yang beradab. Pertengkaran yang sudah rutin itu adalah napas dan denyut nadi kehidupan mereka. Tak perlu diubah-ubah lagi kalau itu sudah tabiat keduanya. Tak ada kebahagiaan yang sempurna. Kalau abang sampeyan bisa menerima fakta itu, damailah hatinya. Tak usah risau. Jalani saja semua. Bertengkarlah seperti biasanya, itu pertanda mereka masih sehat wal-afiat dan normal fungsi organnya. Kalau salah satu dari mereka sudah ditahlilkan, barulah terasa sepinya. Pertengkaran mungkin ada faedahnya, mencegah kepikunan, mengasah kecerdasan, minimal kosakata mereka pasti terdengar dahsyat mengerikan.

Anak-anak bukan hanya akan terluka, tapi juga mengecam watak pengecut orangtuanya. Sesudah sekian lama mereka qatam menyimak histrionics alias tayangan sinetron konyol papa & mamahnya, baru sekarang ada ketegasan sikap untuk berpisah. Itu menunjukkan timing yg kacau dan manajemen hidup yang payah. Sudah, sampaikan salam saya sama abang sampeyan itu. Katakan padanya: Nothing to change. The (crazy) show of his quirky marriage must go on. (Arif Subiyanto)


Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Menghadapi Istri yang Egois, Tidak Patuh, dan Kasar"

Posting Komentar