Menghadapi Ketidakhamornisan Hubungan dengan Kolega



Salah satu masalah prevalen yang banyak dikeluhkan kaum profesional adalah disharmoni alias ketidakhamornisan hubungan dengan kolega. Ketenangan kerja sampeyan terusik oleh sikap salah satu rekan kerja: sikapnya tidak bersahabat, sinis, agresif, mencari-cari kesalahan sampeyan, cenderung menjegal sampeyan, dan segala tabiat maupun perilaku yang menyebalkan.

Hubungan Kolega Kerja

Sampeyan sudah berusaha introspeksi, mengalah, bertoleransi, menunjukkan sikap pengertian, membuka komunikasi, bicara terbuka untuk menjebol kebuntuan, tapi hasilnya sama saja: sikap yang dia tunjukkan tetap seperti kotoran penghuni jamban. Harus bagaimana? Supaya hati anda lebih tenang dan terhindar dari gejala jantungan, ada baiknya anda renungkan hal-hal berikut:

1. Kalau dia tidak bisa diajak berbaik-baik, ya sudah relakan. Tidak ada gunanya membangun relasi yang harmonis dengan seseorang kalau dia tidak menghendakinya. Seperti orang mengudap di warung makan, mereka bebas memilih jenis makanan yang disajikan. Demikian pula dengan diri anda: boleh jadi you bukan tipe kolega yang dia inginkan Sekeras apapun sampeyan mencoba berbaik-baik padanya dan menghargainya sebagai manusia, percuma saja. Leave them be. Daripada buang-buang waktu memikirkan mahluk yang tidak genep seperti itu, mendingan sampeyan mencari sohib lain atau meningkatkan kualitas persahabatan dengan teman lain yang lebih menyenangkan.

2. Kadang sampeyan hanya merasa 'tidak enak hati, kerja sekantor kok tidak akur.' Dengan kata lain, keinginan anda untuk berbaik-baik dengan dia hanya karena masalah kelayakan pergaulan. Basa-basi, sopan santun gincu peradaban. Kosmetik kepura-puraan tidak akan pernah membahagiakan. Hargailah kejujuran teman sampeyan itu bahwa dia memang tidak menyukai anda. Hormati pilihannya, dan perlakukan dia dengan cara yang sama, jangan sampai you mati muda karena ngenes mikirin dia.

Dia acuh, balas acuh. Dia seperti munyuk? Anda bisa jadi gorila. Dia seperti cacing? Sampeyan bisa jadi belut. Dia menjijikkan? Percayalah, sampeyan jauh lebih menjijikkan di matanya. Dia meludah? Silakan muntah-muntah. Kalau sampeyan bisa menerima fakta ini, selesailah sudah. Mungkin ada yang salah dengan otaknya, syaraf matanya, atau dengan kesehatan mentalnya. Bagi dia, sampeyan buruk dan tidak berguna. Terima fakta itu, dan jangan repot-repot menjelaskan padanya siapa you yang sesungguhnya. Selama kalian bisa saling mendiamkan tanpa merusak rutinitas dan kontinuitas pekerjaan, there is nothing to worry about.

3. Lumrahnya manusia memang ingin hidup rukun damai sentausa. Ketemu teman saling menyapa, saling menghiasi hari dan menjaga suasana hati. Itu lumrahnya. Tidak semua orang suka dengan kelumrahan itu. Disamping itu, keinginan untuk beramah tamah dan hidup harmonis kadang didorong oleh ego sampeyan yang manja: maunya selalu populer dan bisa diterima di semua kalangan.

Harap diingat, dunia ini dipenuhi aneka jenis organisme dengan morfologi, sifat dan habitat masing-masing. Bayangkan diri sampeyan seekor tokek yang hobi merayap-rayap di tembok, lalu teman sampeyan itu seekor ikan arwana yang tinggal di akuarium dan bernafas dengan insang. Mana bisa kalian akur? Memang wujud kalian sama-sama manusia berkaki dua, tapi pasti berbeda dunia kebatinan, sejarah hidup, wawasan, orientasi, selera dan lain-lainnya. Di komunitas tertentu sampeyan dianggap nabi, tapi di mata teman itu sampeyan adalah penyakit. Tak usah memaksa diri membuktikan hal yang sebaliknya. Save your time and energy, forget those morons and don't let them rob your happiness.

4. Hal terakhir yang gampang-gampang susah untuk mengamalkannya: kalau ada orang yang menyikapi anda dengan tidak simpatik, kemungkinan terbesar orang itu punya masalah pribadi yang luarbiasa. Rumah tangganya goyah. Suami atau istrinya payah. Mertuanya predator. Dan berbagai tragedi kehidupan lain yang menggerus kewarasannya. Jadi, kalau sampeyan lihat ada teman sekerja yang sikapnya nggilani, sudahlah jangan diambil hati, ask yourself: "Am I happy?" If you get a positive answer, forget the rest, case closed. Percayalah, orang itu pasti tidak bahagia hidupnya. Bersyukurlah anda jauh lebih bahagia. Cepat-cepatlah minggat dari hadapannya sebab kehadiranmu bikin dia makin tidak sejahtera. (Arif Subiyanto)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Menghadapi Ketidakhamornisan Hubungan dengan Kolega"

Posting Komentar