Menghadapi Konflik Antara Istri dan Ibu Mertua



Q - Saya rada gerah mikirin kondisi saya akhir-akhir ini. Istri yang baru 4 bulan saya nikahi terlihat menderita sekali karena sikap ibu saya. Di mata ibu, mantunya itu selalu saja ada kurang dan celanya. Hingga detik ini urusan mencuci pakaian saya masih dihandle ibu, juga urusan masak-memasak, istri selalu kena cela. Istri tak boleh mengurusi pakaian saya karena dinilai tak cakap mencuci. Bukan sekali dua ibu menunjukkan sikap tidak percaya, seakan dia itu menilai mantunya belum pantas melayani saya. Ibu memang tinggal dengan kami sebab saya anak semata wayang. Istri sudah berusaha menyenangkan hati mertuanya, dia mencoba membelikan benda-benda dan makanan kesukaan ibu saya, tapi malah diprasangkai macam-macam. Bagaimana solusinya?

Istri dan Ibu Mertua

A - Sampeyan anak semata wayang, itu persoalannya. Satu-satunya 'human investment' yang dimiliki ibunda seorang. Jadi bisa dipahami (meski tetap saja nggak wajar) kalau kasih sayangnya pada sampeyan lumayan paranoid. Coba sampeyan sebagai putra tercinta berusaha pahami ibunda dari kacamata psikologi wanita. Dia tidak lagi punya apa-apa selain sampeyan. Beliau juga berangkat tua, dan proses penuaan manusia adalah proses yang niscaya, yang kadang tidak disadari oleh yang mengalaminya. Penurunan stamina fisik terkadang juga disertai oleh penurunan kemampuan berpikir. So, jangan sekali-sekali mengharap atau memaksa ibu sampeyan untuk bersikap dewasa dan bijaksana. Kondisi wanita itu sudah 'pasca dewasa' dan 'pasca bijaksana.' Dia sudah capek dengan perjalanan hidupnya. Mungkin terdengar pahit, tapi kenyataan memang demikian: satu-satunya yang pantas dia terima adalah pengertian sampeyan.

Nah, solusinya cukup gampang. Setelah sampeyan paham kondisi psikologis ibunda, sampaikan informasi ini kepada istri dengan serius: sikapi pasangan hidup sampeyan itu sebagai mahluk cerdas yang masih teramat mampu berpikir dan bersikap rasional. Jangan paksa istri terlalu mengorbankan perasaan dan egonya. Dia sudah cukup mengorbankan masa-masa bulan madunya karena terpaksa hidup seatap dengan ibunda. Please appreciate that.

Setelah istri paham situasi, ajaklah dia bersandiwara, seakan-akan kalian ini patuh dan serba 'iya dan iya' kepada ibunda. Beri pengertian kepadanya bahwa suatu hari nanti dia akan menjadi nenek-nenek juga, bisa pikun, subyektif, keras kepala, mau menang sendiri, jadi beban bagi orang sekitarnya. Kalau dia bisa terima fakta dan menunjukkan bakti yang tulus, calon ahlul jannah dia. Kalau nggak bisa, fine, jangan dipaksa. Cukuplah kalian bersandiwara mengiyakan apa saja titah dan kemauan ibunda.

Banyak hal-hal kreatif yang bisa kalian lakukan bersama. Jajan berdua, melakukan hal-hal yang dibenci ibu sampeyan di luar rumah, itung-itung pacaran lagi. Kalau ibunda tidak rela dia mencuci pakaian anda, syukuri saja, itu pertanda ibu masih sehat fisiknya. Bukankah itu lebih baik daripada dia sakit-sakitan dan membebani kalian. Biarkan ibu terus memperlakukan sampeyan sebagai bayi abadi, tak jadi soal. Tidak perlu sampeyan biarkan kedua perempuan itu bertempur berebut wilayah kekuasaan. Ajak istri menyikapi semua ini sambil tertawa. Tidak usah memaksa istri untuk bersahabat dengan mertuanya kalau memang dia dongkol hatinya. Dan jangan biarkan ibunda merampok kebahagiaan istri sampeyan. Pokoknya sebagai lelaki sampeyan harus fleksibel dan kreatif.


Kalau istri lagi bete kepada mertuanya, ajak dia pergi dan suruh dia melampiaskan amukannya kepada sampeyan. Di depan ibunda kalian harus bersikap lebih dewasa. Ingat saja kata orang Jawa: sing waras ngalah. Anda ini jadi rebutan dua wanita terpenting di dunia. Yang satu melahirkan anda, membesarkan dan mendoakan sampeyan tanpa pernah putusnya. Yang satunya lagi menerima warisan masa lalu anda, termasuk menerima fakta bahwa sampai setua itu sampeyan masih diperlakukan sebagai bocah TK. Bukan salah sampeyan, bukan salah istri sampeyan, bukan pula salah ibunda.

Jangan sekali-sekali menyalahkan cinta kasih wanita. Sekonyol apapun yang mereka berikan, itulah cinta yang menghidupi sampeyan. Sampaikan saja semua tulisan saya ini kepada nyonya tercinta, ajari dia jadi nyonya yang hebat dan dewasa. Mengalah sesaat demi kebahagiaan dan tujuan yang lebih utama. (Arif Subiyanto)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Menghadapi Konflik Antara Istri dan Ibu Mertua"

Posting Komentar