Mengupas Berbagai Dimensi Kesabaran



Sabar bukan ilmu, tapi seni. Kuasai seni itu, insyaalloh hidupmu tenang selalu. Sabar itu banyak variasinya. Kesabaran yang sampeyan tunjukkan pada kolega sableng atau junior yang kurangajar di kantor sampeyan tidak sama dengan kesabaran yang sampeyan tunjukkan pada mertua, anak-anak atau pasangan. Sabar bukan pertanda lemah atau plin-plan, tapi justru sehebat-hebatnya kesaktian.

 mengulas hakekat esabaran

Sampeyan punya musuh atau rival yang ulahnya nyebelin, petentang-petenteng, suka pecicilan dan omonganya asal njeplak? Coba anda sikapi orang itu secara reaktif dengan melabraknya secara spontan. Saya berani jamin bukan kemenangan yang sampeyan dapatkan, tapi cemoohan. Itu menunjukkan watak sampeyan yang mudah ditebak. Jadilah manusia yang sulit diprediksi. Gunakan akal dan kalkulasi: melawan badut seperti itu bakal bawa untung atau rugi? Sabar sesungguhnya keren; itulah cara anda mengejek seteru dengan telak: "Tak ada untungnya saya meladeni mahluk murahan seperti kamu. Kalau saya ladeni tingkahmu, berarti saya selevel denganmu."

Suami atau istri anda kumat konyol? Dia memprovokasi keributan? Bersabarlah. Meladeni kesintingan dia tidak ada faedahnya, sebab yang anda lawan itu bukan dia, melainkan iblis yang mengendalikan hati dan pikirannya. Anggap saja dia lagi kesurupan; buat apa anda meladeni omelan setan? Tinggalkan dia sampai setannya hilang sendiri, dan kembalilah padanya ketika dia sudah adem dan manis lagi. Ingat: yang bikin sebel tadi adalah iblis yang menungganginya. Selebihnya hanya dia yang sampeyan cintai sepenuh jiwa. (Arif Subiyanto)


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Mengupas Berbagai Dimensi Kesabaran"

Posting Komentar