Menolak Tawaran Kerja Karena Membesarkan Anak



"Pak, salahkah kalau saat ini saya menolak berbagai kesempatan dan tawaran kerja karena sedang membesarkan anak saya?"

Membesarkan Anak

Seberapa sulit menjawab pertanyaan yang dikirim lewat pesan singkat itu? Dengan mudah saya bisa nggombali dia dengan pentingnya tugas seorang ibu demi hari depan anaknya. Jawaban senada bisa saya nukilkan dari buku-buku agama atau artikel di majalah Kartini, Femina, atau Ayah Bunda. Tapi sungguh mati saya sulit menjawabnya. Saya biarkan lebih dari 30 jam pertanyaan itu mengambang di benak saya.

Kenapa saya sulit menjawab pertanyaan itu? Sebab saya seorang lelaki, dan si penanya itu wanita. Bukan pula sembarang wanita, karena dia pernah bertahun-tahun jadi murid saya, dan pikirannya pernah saya racuni dengan ide-ide tentang kesetaraan gender dan berbagai provokasi yang menyulut ambisinya. Kebetulan juga dia dulu mahasiswi yang cemerlang otaknya. Kalau saya benarkan keputusannya yang menolak prospek berkarir di depan mata, berarti saya mencla-mencle kepadanya. Tapi kalau saya bilang keputusan itu salah, di mana tanggungjawab moral saya terhadap mahluk kecil yang punya daulat mutlak akan kasih sayang ibunya?

Sebenarnya sahabat kita itu sudah tahu jawabnya. Mungkin yang dia butuhkan hanyalah kata-kata yang bisa meneguhkan sikap dan keputusannya.

1) Semoga dia ingat dan mensyukuri kehormatan yang dianugerahkan Tuhan dengan posisinya sekarang sebagai ibu. Menjadi ibu itu tak mudah. Dia sudah membuktikan diri bisa memberi keturunan yang sehat kepada suaminya. Anak itu adalah human investment yang nyata. Kelak di hari tuanya anak itu akan membalas kasih sayang dan pengorbanannya dengan sikap berbakti dan kepatuhannya.

Tidak semua pasangan dengan mudah bisa mendapat momongan. Ada juga orang yang karirnya cemerlang tapi anaknya sakit-sakitan atau kelakuannya memusingkan. Sepertinya kurang adil kalau dikatakan ibu punya porsi tanggungjawab yang lebih besar demi memastikan si anak jadi manusia yang bisa diandalkan dan dibanggakan, but that is the truth. Syukurilah peran mulia yang sekarang anda sandang. Untuk beberapa saat biarkan suami yang bekerja keras mencari nafkah dan mencukupi sandang, pangan dan papan.

2) Peluang yang datang silih berganti bersamaan dengan kesibukan anda merawat dan membesarkan seorang balita hendaknya disikapi sebagai 'godaan.' Betapa bukan godaan? Dia datang pada saat yang tidak memungkinkan. Opportunity rarely knocks twice, I know, but rest assured that God has better plans for you in the years to come.

Saya yakin masih banyak waktu dan peluang bagi sahabat kita itu untuk menorehkan prestasi gemilang sesuai dengan potensi yang dia miliki, dan sebagai mantan dosennya saya tidak pernah meragukan. Dia bisa mengajar, merancang program pelatihan, memberi konsultasi pendidikan, bahkan bisa juga menerjemah. Untuk sementara tangguhkan dulu semua urusan itu, dan nikmatilah kesempatan yang hanya terjadi sekali seumur hidup untuk berdekat-dekat, bermanja-manja, berhangat-hangat dengan buah hatimu.

Setumpuk uang dan gelar kehormatan tidak ada artinya kalau ananda sakit-sakitan atau lebih dekat dengan baby sitter yang diupah untuk menggantikan peranan sampeyan. (Arif Subiyanto)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Menolak Tawaran Kerja Karena Membesarkan Anak"

Posting Komentar