Menyelamatkan Hari Agar Tidak Terbuang Sia-sia



Saya punya resep yang ampuh untuk menyelamatkan hari saya agar tidak terbuang sia-sia. Tiap pagi, ketika Tuhan mengembalikan nyawa dan kesadaran saya, hal pertama yang saya lakukan adalah membuat komitmen pribadi yang berfungsi sebagai antidote atau semacam 'buffer' agar jatah 24 jam yang akan saya habiskan nanti tidak percuma, agar agenda hidup dan suasana hati saya tidak berantakan. Komitmen yang saya buat bisa bervariasi, tergantung proyek, pekerjaan dan jenis orang-orang yang akan saya hadapi.

Menyelamatkan Hari

Jadi, ketika saya masih terkapar di pembaringan dengan mata berkabut, saya akan katakan pada diri sendiri: "Jangan gampang kaget, jangan gampang tersinggung, jangan mudah meradang, jangan terlalu perasa kalau jadi orang, jangan terlalu berharap hari ini, jangan terlalu yakin pada omonganmu, anggapanmu, prasangkamu, asumsimu..." Selama saya masih memegang komitmen pribadi itu, insyaalloh irama denyut jantung saya relatif terjaga, konsistensi tarikan dan embusan napas saya pun stabil harmoninya, dan malam harinya saya bisa berangkat tidur sambil tertawa.

Selama komitmen itu masih ada, hidup saya lumayan bebas dari gangguan. Ketemu orang yang menyebalkan saya bisa cepat melupakan, atau menahan keinginan untuk membalas dendam: cepat atau lambat dia pasti mampus atau ditelan kesombongannya sendiri. Ketemu orang yang menjengkelkan, saya bisa cepat menghapus sesalan, sebab saya sendiri tak kalah menjengkelkan.... Dikecewakan orang saya bisa tertawa: toh saya sendiri banyak bikin kecewa orang. Ketemu orang jahat saya bisa seenak hati memain-mainkan logika saya sendiri: "dia belum tentu jahat sungguhan. Kalaupun dia jahat padamu, itu pasti balasan bagi apa yang kamu perbuat terhadap orang lain di masa lalu... Dia yang jahat itu rejeki bagimu, sebagai pengingat agar kau selalu menjaga tabiatmu, sebab banyak orang menilai dirimu persis seperti kau menilai orang itu."

Apa yang saya tulis di atas samasekali bukan hal baru. Anda bisa menyebutnya latihan berpikir positif, latihan mawas diri, introspeksi, atau apa saja. Sudah puluhan kali dibahas di buku psikologi populer dan artikel-artikel motivasi. Apapun namanya itu tak penting. Selama saya merasakan manfaatnya, saya akan selalu mengamalkan itu sebelum saya menemukan metode yang lebih canggih untuk mempertahankan kewarasan sebagai manusia. (Arif Subiyanto)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Menyelamatkan Hari Agar Tidak Terbuang Sia-sia"

Posting Komentar