Perihal Reputasi, Nama Besar, Pamor, Wibawa, dan Kharisma



Reputasi, nama besar, pamor, wibawa dan kharisma adalah kualitas pribadi yang banyak diidamkan anak manusia. Dengan modal nama besar dan wibawa orang dimudahkan urusannya. Manusia-manusia di sekitar kita kagum, tunduk dan patuh dengan clometan apa saja yang menyembur bersama busa liur kita. Orang yang dianggap berjasa lalu disemati power alias kekuasaan dengan mudah bisa meraih apa saja kehendak hatinya.

Pemimpin yang Dihormati

Untuk meraih reputasi, nama besar dan harum itu orang musti berjuang, musti disakiti, dianiaya, dipecundangi, berdarah-darah terpuruk, dan dalam keteguhannya akan mengundang simpati. Lambat laun simpati itu berubah menjadi gelombang dukungan... dan waktu menunjukkan manusia yang dulu dipecundangi kelak akan meraih kemuliaan.

Kemuliaan itu akan kekal abadi, namamu dikenang sebagai pembebas, pembaharu, pemberontak anti kemapanan, manusia langka yang memperjuangkan kesetaraan dan martabat bagi sesamanya. Pada titik kemuliaan itu seorang pahlawan diuji. Sanggupkah dia menjaga kerendahan hati? Kalau dia berhasil, insyaalloh dia terus mulia sampai mati. Kalau dia gagal, mabuk kekuasaan, rakus kemenangan, silau matanya pada kilau kebendaan dan tuli kupingnya karena gemuruh ambisi, maka dia bukan lagi mahluk mulia, tapi manusia kesetanan yang gemar memberhalakan diri, mengangker-angkerkan citranya sendiri, jadilah dia manusia setengah dewa mabuk yang meracuni pengagum dan pengikutnya dengan ilusi dan segala macam perilaku yang irasional alias tolol.

Sejarah mencatat dengan tinta emas tokoh-tokoh miskin namun punya daya pikat luar biasa dengan sikapnya yang konsisten seperti Mahatma Gandhi, atau Nelson Mandela. Orang-orang itu relatif masih kere di akhir hayatnya. Sejarah juga mencatat dengan tinta berbau bacin, manusia-manusia munafik yang mengerahkan dukungan massa untuk mengusir penindas, namun akhirnya dia jadi penindas yang tak kalah bengisnya. Contohnya banyak, misalnya Robert Mugabe. Dalam konteks Indonesia, silakan dicari sendiri, kalian bakal kewalahan menulis daftarnya.

Kembali ke persoalan wibawa, kharisma dan keangkeran pribadi: semoga Tuhan dan para malaikatnya menjaga kerendahan hati kita sepanjang masa, sebab kemuliaan, nama besar dan reputasi yang Dia pinjamkan itu bisa berubah jadi racun hati! Terlalu lama kau duduk di singgasana yang kau bangun dengan mitos tentang dirimu sendiri, semakin lama kau menyihir para pengikutmu dengan takhayul yang menyamarkan kekerdilan jiwamu sendiri, maka makin rusaklah bangsa ini.


Kalau kau mengaku bertuhan mestinya kau tahu bahwa manusia hanyalah daging tulang, darah, kotoran dan daki. Tak layak kau biarkan orang tolol mencium-cium tanganmu, menenggak air najis bekas celupan cekermu... sebab semua itu membuat mereka makin takhayul dan sesat. Tunjukkan jasa yang nyata kepada mereka dan jangan sekali-sekali omong soal rakyat kalau you tidak paham tentang kebutuhan mereka. Mereka butuh dicerdaskan, bukan dihipnotis dengan wibawa palsu. Mereka butuh diberdayakan, bukan dibiarkan menyembah hantu. (Arif Subiyanto)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Perihal Reputasi, Nama Besar, Pamor, Wibawa, dan Kharisma"

Posting Komentar