Pilih Mana: Jadi Orang Waras atau Orang Edan?



Sampeyan pilih mana: jadi orang waras atau orang edan? Tanpa banyak pikir sebagian besar dari kita pasti milih waras. Kenapa pilih jadi orang waras? Sebab sampeyan tidak mau disemati predikat sebagai orang edan, sebab di mata kita ulah mereka bikin sampeyan bergidik, risih, jijik dan tak nyaman. Berkeliaran di jalanan, ngomong ceplas-ceplos dengan tubuh polos tanpa sungkan, dan melakukan atraksi apa saja yang sulit diterima akal dan logika kita yang masih berlindung di balik pagar kewarasan.

Orang Edan Gila

Orang beragama bilang, orang edan adalah manusia yang sudah dilaknat Tuhan. Mungkin ada benarnya, sebab dulu mereka kurang tawakkal dalam menerima ujian. Tapi pernahkah sampeyan berpikir bahwa kegilaan adalah kanal pelepasan, semacam 'emergency door' buat jiwa teraniaya yang sudah benar-benar tidak tahan dengan segala siksaan? Orang tak pernah ingin jadi gila, tapi kalau akhirnya dia berubah akal, mungkin itu juga sebuah pilihan.

Dalam keseharian kita mudah menyaksikan orang yang sebenarnya agak waras, tapi memutuskan untuk 'ngedan.' Jadi, isi benak dan jiwa dia itu mengambang antara kewarasan dan kegilaan. Kalau jidatnya adem, dia bisa hidup normal, tapi kalau di pelipisnya sudah menempel beberapa lembar Salonpas, itu pertanda dia mau tinggal landas ke awang-awang, menikmati kemerdekaan dari norma, menerabas sekat rasa malu dan rikuh yang menerungku manusia berakal lengkap.

Bagi kita semua itu musykil: bagaimana bisa, orang hidup berbulan-bulan tak mandi, polos saban hari, mengais makanan dari timbunan sampah buangan. Omong lantang tentang dendam kesumat atau trauma yang merajam pikirannya, meratapi kekasih yang mencabik-cabik kerinduannya, berlarian sepanjang hari mencari bini atau suaminya yang khianat, berorasi di tengah jalan mengumbar aib atasan atau partainya... Dan mereka tidak lagi rikuh atau sungkan, tidak lagi malu atau tertekan. Kita yang menyaksikan merasa iba, mengelus dada, memalingkan muka, padahal mereka sedang manggung menikmati puncak karirnya, melagu-lagu, menari meliuk-liuk merayakan kebebasan jiwanya.

Nina pretty ballerina, now she is the queen of the dancing floor
This is the moment she waited for, just like Cinderella.. just like Cinderella.. (Arif Subiyanto)


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pilih Mana: Jadi Orang Waras atau Orang Edan?"

Posting Komentar