Menerima Kekasih Apa Adanya dengan Mata Hati



Sampeyan pasti pernah melihat lelaki yang cuma mesam-mesem ketika pasangannya dicelathu (dimaki) orang: "Halah halaaah, wedokan koyo celengan semar ngono kok mbok demeni! Opo kurang wong ayu? Opo wis keno katarak miripatmu? Lha wong wedok koyo ngono kok dirabi, amit-amiitt jabang bayi!"

Mencintai Seseorang

Atau, perempuan yang hanya nyengir ketika teman-teman akrab dia ngrasani lelaki kekasihnya: "Busettt, kamu mau lelaki buluk kayak kuda nil begitu? Apanya yang hebat? Sudah pendek, hitam buncit, jerawatan lagi! Persis onde-onde gosong."

Kenapa ejekan yang diucapkan setulus hati itu tidak ditanggapi negatif dan sang pemilik mahluk korban mutagenesis itu tetap cinta? Itu karena mereka memandang dengan mata hatinya.

Beda banget dengan cowok super alay yang bangga punya pacar mirip Agnes Monica (celana pendeknya). Atau cewek yang bangga punya cowok mirip Ronaldo (kaos oblongnya). Lelaki perempuan seperti itu biasanya masih butuh pengakuan khalayak. Menggaet pacar yang pesonanya sesuai dengan selera pasar adalah target utama mereka. Mereka lebih pusing mendandani atau memoles tabiat sang kekasih demi memuaskan sekian pasang mata penonton mereka. Tak mengherankan kalau mereka gemar memasang foto-foto kekasihnya di facebook. Tapi nggak apa-apa, itu proses pertumbuhan yang amat wajar.


Saya dulu juga begitu kok.... Nanti lambat laun mereka akan mencapai kematangan jiwa di mana rasa sayang, rasa puas, rasa tenang, rasa memiliki dan dimiliki itu terbit dari salah satu lipatan paling rahasia di hati. Persetan kekasih sampeyan baunya apek, insyaalloh rasa cinta padanya akan mengalahkan kepekaan syaraf penciuman di hidung anda (toh solusinya gampang, bawalah Vicks Inhaler kalau lagi jalan sama dia). Persetan giginya kuning atau bibirnya pecah-pecah, kalau cinta sudah menguasai jiwa anda, semua bisa diterima (artinya: belikan masker yang banyak untuk dia). Lepas dari guyonan saya yang nggak senonoh ini, sampeyan kelak bertahun-tahun ke depan akan mengakui sendiri kebenaran omongan saya.

Bahwa jodoh yang dikaruniakan kepada anda itu memang amat jauh dari sempurna. Tapi bukankah anda juga tak lebih baik dari dia. Ah, ternyata jawabannya sederhana saja: kalian adalah keping-keping mosaik yang saling melengkapi. Warna-warni yang kalian bawa akan memperkaya lukisan indah yang terbingkai dalam kisah hidup anda nanti. Insyaalloh begitu. (arif subiyanto)


Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Menerima Kekasih Apa Adanya dengan Mata Hati"

Posting Komentar