Mengenal Lampu Lampion, Tradisi dan Maknanya



Masyarakat Indonesia tentunya sudah banyak yang mengenal Lampion, lampu (lentera) khas masyarakat keturunan Tionghoa. Lampu yang biasanya berbentuk bulat dengan warna dominan merah ini selalu melengkapi acara perayaan religi dan tradisi masyarakat keturunan Tionghoa.

Lentera Lampion Tionghoa Lampion, lentera tradisi masyarkat keturunan Tionghoa (image: Yunaidi/National Geographic Indonesia)

Tahukah Anda, ternyata lampion dinegeri asalnya (China) bentuk lampion tidak melulu bulat, banyak ragam dari bulat, kotak, sampai jajaran genjang. Bahan pembuatan lampion pun tak hanya berupa kertas merah, namun dapat dibuat dari bahan lainnya, seperti kain, bambu, bahkan kain sutera dengan bermacam-macam warna dan bentuk.

Lampion (deng 灯) adalah warisan leluhur masyarakat Tionghoa sejak ribuan tahun silam. Dalam tradisi kebudayaan warga Tionghoa, lentera punya hari perayaannya sendiri. Perayaan lentera atau lampion yang terbesar adalah Festival Lampion (deng jie 灯节) yang dirayakan setiap tanggal 15 bulan pertama perayaan Imlek. Lampion-lampion digantung dan diarak keliling kota dengan diiringi letusan kembang api yang menambah keriaan suasana.

Perayaan itu telah dilaksanakan sejak masa Dinasti Han (206 SM-220M), artinya lampion telah digunakan sebagai bagian dari perayaan tradisional di Cina sejak 2000-an tahun silam. Pada awalnya, perayaan lampion bukan untuk perayaan tahun baru, melainkan sebagai pemujaan kepada ‘Penyebab Utama Kejadian’ yang dikenal dengan ‘Awal Terjadinya Alam Semesta’ (yuan shi tian zun 元始天尊).

Selain itu, lentera pada masa perayaan lampion pun lebih sering dihiasi oleh beragam motif dan karakter Han sebagai bentuk harapan dan doa bagi para penulisnya. Bahan pembuatan lampion pun tak hanya berupa kertas merah, namun dapat dibuat dari bahan lainnya, seperti kain, bambu, bahkan kain sutera dengan bermacam-macam warna dan bentuk. Perayaan lentera selanjutnya dilaksanakan setiap tanggal 7 bulan 7 penanggalan Imlek (sekitar bulan Agustus/September).

Lentera ini ibarat harapan cahaya agar pada tanggal 15 bulan 7, arwah orang-orang yang pada saat meninggalnya jauh dari keluarga, akan dapat kembali ke bumi dipandu oleh cahaya lampion. Pada perayaan itu juga dibuatkan sesaji untuk arwah-arwah yang kelaparan. Kemudian tepat saat bulan purnama, maka arwah-arwah akan dituntun kembali ke alam arwah oleh cahaya lentera yang telah dinyalakan 7 hari lamanya.

Di Indonesia, masyarakat keturunan Tionghoa banyak menggunakan lampion terutama pada saat dimulainya perayaan Imlek, tak hanya sebagai pemanis ruangan atau dekorasi semata, tetapi juga lampion digunakan sebagai simbol harapan untuk tahun baru yang menyenangkan, membawa kebahagiaan, serta kesuksesan.

Tradisi lampion yang penuh filosofis ini seyogyanya agar terus dilestarikan. Meskipun ini tradisi masyarkat keturunan Tionghoa, tapi hampir semua perayaan masyarakat ini seakan menyatu menjadi perayaan warga Indonesia seluruhnya. (Agni Malagina, Sinolog dari Universitas Indonesia via Nationalgeographic.co.id)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Mengenal Lampu Lampion, Tradisi dan Maknanya"

Posting Komentar