Tradisi Awetkan Mayat Suku Angga Papua Nugini; Sisa Cairan DijadikanMinyak Goreng!



Adalah Suku Angga yang mempunyai ritual unik (kalau tidak mau dikatakan ngeri) dalam mengawetkan mayat atau mumifikasi. Dalam tradisi mengawetkan mayan suku yang berada di dataran tinggi Papua Nugini ini lain dengan mumifikasi pada umumnya. Apa saja keunikan prosesi ini?

Ritual Pengewatan Mayat Suku Angga Papua Nugini
Mayat akan dilumuri dengan tanah liat dan lempung merah yang digunakan sebagai kepongpong alami untuk mencegah kerusakan pada mayat. (foto: Aktual.com)

Proses mumifikasi yang dilakukan suku Angga sangat teliti dan cermat, langkah pertama adalah menggorok lutut, siku dan kaki mayat serta lemak di tubuh mayat dikeringkan sepenuhnya. Setelah itu tiang bambu yang sudah dilubangi ditusukan ke perut mayat agar darah mengalir keluar, tetesan darah yang keluar tersebut dioleskan ke rambut dan kuit kerabat dari mayat tersebut, hal ini dipercayai akan memindahkan kekuatan dari orang yang sudah meninggal kepada kerabatnya.

Ada yang bisa membuat Anda tercengang, sisa-sisa tubuh mayat tersebut akan dijadikan "bahan makanan", seperti sisa cairan yang keluar ditubuh dijadikan minyak goreng dan lidah, telapak tangan, telapak kaki mayat akan dihidangkan pada pasangan yang masih hidup.

Proses selanjutnya adalah menjahit mata, mulut dan anus mayat. Diyakini oleh mereka bahwa hal ini akan mencegah pembusukan karena udara tidak akan masuk.

Proses terakhir dari pengawetan mayat suku Angga ini adalah tubuh mayat kemudian dimasukan ke dalam lubang api yang telah disediakan guna dilakukan proses pengasapan.
Kemudian mayat dilumuri dengan tanah liat dan lempung merah yang dijadikan sebagai kepongpong alami untuk mencegah kerusakan pada mayat. (sumber: Nur Lail; Actual.co)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tradisi Awetkan Mayat Suku Angga Papua Nugini; Sisa Cairan DijadikanMinyak Goreng!"

Posting Komentar