Seputar Rokok Elektronik



Rokok Elekronik atau rokok elektrik akhir-akhir ini semakin populer dikalangan perokok, khusunya kalanga yang ingin berhenti merokok. Karena kepopulerannya ini, perputaran uang industri rokok elektronik mencapai angka Rp 15 triliun per tahun. Sedangkan omzet perusahaan mampu menembus angka Rp 30 triliun dalam 5 tahun.

Rokok Elektrik
Rokok eletrik atau rokok elektronik
(Image: id.wikipedia.org)

Rokok elektronik pertama kali ditemukan oleh Ruyan Corporation di Tiongkok pada 2003, rokok ini diklaim dapat mengurangi kecanduan dalam merokok, atau bisa dijadikan rokok transisi dalam berhenti merokok.

Rokok elektronik atau e-cigarette berbentuk seperti rokok pada umumnya, tapi kebanyakan berbentuk pulpen. Rokok jenis ini juga mengeluarkan asap seperti rokok pada umumnya. Asap yang dihasilkan berasal dari uap air. Uap air ini dihasilkan dari alat penghasil panas yang ada dalam 'pulpen' tersebut. Cairannya sendiri bisa berupa nikotin cair atau berbagai pilihan rasa sesuai selera. Ada yang memiliki rasa buah, bunga, hingga rasa tembakau.

Menggunakan baterai litium kecil, rokok elektronik perlu diisi ulang (rechargeable). Beberapa di antaranya dilengkapi lampu LED di ujungnya sehingga memiliki efek menyala seperti rokok tembakau.

Rokok elektronik juga diklaim lebih sehat karena uap yang dihasilkan tidak mengandung karbon monoksida. Penelitian juga menunjukkan kadar nikotin dan zat-zat lain dalam rokok tersebut dalam jumlah yang tidak berbahaya.

Rokok elektronik diketahui mengandung propilen glikol dan gliserin sayuran. Kedua bahan ini merupakan komposisi penghasil uap dalam rokok. Propelin glikol tak lain adalah zat tambahan dalam makanan dan pembuat kabut buatan dalam sebuah pertunjukkan panggung. Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) menyatakan bahwa gliserin sayuran tergolong zat yang aman untuk digunakan.

Meskipun banyak yang mengklaim rokok elektrik ini aman untuk kesehatan, belum ada badan kesehatan yang secara resmi mengeluarkan pernyataan tentang dampak dari e-cigarette ini. Di Indonesia-pun belum ada ijin resmi peredaran rokok elektrik dari BPOM.
(Sumber: Kompas Health, Nationalgeographic.co.id)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Seputar Rokok Elektronik"

Posting Komentar