Syukur yang Hampa



Sebuah renungan dari pak Arif Subiyanto, tentang banyak orang yang hanya obral-murah ucapan syukur:

Makna bersyukur yang baik
Syukur bukan hanya diucapkan
(Photo: hasbee.wordpress.com)

Ratusan kali saya baca di wall ribuan ummat fesbukiyah, update status bertema ungkapan syukur kepada Tuhan. Alhamdulillah ya Rob, suami hamba dapat promosi jadi kabag keuangan... Puji Tuhan haleluya jagoan saya lulus cum laude... Terimakasih ya Alloh atas rizkiMu hari ini... Dan masih banyak lagi.

Macam-macam tujuan atau modus di balik tulisan indah semacam itu. Ada yang murni bersyukur tapi kesulitan mencari wahana berekspresi selain fesbuk. Ada yang niat pamer tapi dikemas dengan kedok kesalehan. Ada juga yang pura-pura bersyukur dan pura-pura lagi kejatuhan rejeki. Semua itu baik dan sah adanya. Dan jelas lebih mulia dibandingkan dengan tulisan saya yang sengak aromanya. Anggaplah semua update syukuran itu otentik dan tidak punya muatan apa-apa kecuali rasa terimakasih mereka pada dzat mahamulia yang menguasai hajat hidup mereka.

Yang mau saya tanya: pahamkah kalian tentang makna atau hakikat rasa syukur itu?

Rasa syukur hendaknya jangan cuma dilisankan atau dituliskan, tapi harus direnungkan dalam-dalam. Acap kali kita cuma berkata 'alhamdulillah...' dengan sepenuh hati, tapi serta merta sensasinya lenyap begitu bibir kita terkatup kembali. Kenapa? Sebab sampeyan cuma bicara dengan bibir dan hati, tapi otak diacuhkan dan dianggap mati. Alhasil, dari satu alhamdulillah ke alhamdulillah berikutnya, selalu ada yang kurang, tawar, hampa...

Bersyukur adalah kata kerja yang bertumbuh, bermetamorfosa, transenden... Kalau diucap dengan kesadaran, pemahaman dan pengamalan, bisa diharap si pengucap menggapai maqom keimanan yang paripurna. You bukan cuma mensyukuri apa yang sampeyan dapatkan, tapi musti ada niat untuk berbagi secuil kebahagiaan dengan sesama insan. Kemudian, sampeyan harus bisa memaknai dan memberi nilai lebih, syukur-syukur berikhtiar untuk melipatgandakan nilai dari rejeki itu.

Terserah bagaimana caranya. Gaji atau amplop honor disisihkan untuk amal jariyah, ditabung, didonasikan, dibelanjakan atau diniagakan dengan cara yang halal. Sesudah itu sampeyan juga harus memagari hati untuk tidak syok atau frustrasi sekiranya Tuhan mengambil kembali apa yang Dia amanahkan padamu tadi, sebab pada hakekatnya semua rejeki dan nikmat itu, meski kalian meraihnya lewat tetesan peluh, darah dan air mata, mustahil datang jika bukan atas ijinNya.

Mulai sekarang berbijaklah, jangan gampang mengucap Alhamdulillah kalau tidak jelas juntrungnya:
Alhamdulillah cewek itu menerima cinta saya (gombal).
Alhamdulillah ulangtahun dibelikan HP (percuma).
Alhamdulillah rival bisnis saya mampus (ngaco)...
(Sumber: Arif Subiyanto; https://www.facebook.com/arif.subiyanto.5)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Syukur yang Hampa"

Posting Komentar