Kadrun Kena Batunya

Kali ini Kadrun kena batunya. Insiden pembakaran bendera PDIP berbuntut panjang. Tampaknya tidak akan ada yang namanya adegan materai tempel 6000.



Banteng-banteng muda mulai bergerak di seluruh daerah, bukan untuk merusuh melainkan untuk melaporkan ke polisi kejadian pembakaran bendera partai kemarin. Hal ini sesuai instruksi Hasto, PDIP akan membawa permasalahan ini ke jalur hukum.

PDIP itu partai politik, bukan ormas baru jadi yang suka bikin rusuh. Struktur komando organisasinya jelas. Mereka tidak akan gegabah di lapangan. Mereka akan membiarkan polisi melakukan tugasnya.

Artinya, negara lah yang sekarang akan berhadap-hadapan dengan para pembuat onar itu.

Hal ini tentu saja membuat lutut para kadrun gemetar. Tadinya mereka mungkin menduga PDIP akan turun ke jalanan, membuat rusuh, membalas mereka layaknya preman. Itu harapan mereka, kemudian dana cair makin besar, negara rusuh, dan akhirnya bisa ditebak, Jokowi harus turun.

Atau paling tidak, jika mereka tidak mampu menghadapi kekuatan banteng moncong putih, mereka akan playing victim, pura-pura lemah dan bilang dizolimi. Narasinya kemudian jelas, umat Islam dianiaya. Ujungnya apa? Tetap saja Jokowi harus turun.

Jadi apapun skenario yang terjadi, tujuan utama mereka jelas, Jokowi turun.

Tapi hal ini pasti sudah dipikirkan oleh PDIP. Partai ini bukan partai baru jadi, umurnya sudah 47 tahun. Ibarat manusia, umur 47 itu orang sudah punya banyak pengalaman, sudah melalui berbagai macam peristiwa yang membuatnya semakin matang dalam bersikap.

Negara kita adalah negara hukum, jadi pilihan PDIP membawa kasus ini ke ranah hukum sudah sangat tepat. Buat apa meladeni ormas yang sukanya berkelahi di jalan? Biarkan hukum yang bekerja, biarkan negara yang memberi hukuman kepada manusia-manusia selfish ini.

Keputusan ini tentu membuat kadrun gemetar. Tiba-tiba semua mencoba klarifikasi. Mereka kompak tidak mengakui pembakar bendera PDIP sebagai massa mereka. Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Martak mencurigai ada penyusup dalam aksi kemarin.

Korlap aksi Edy Mulyadi juga mengatakan hal serupa. Dia mengatakan pihaknya tidak pernah berencana untuk melakukan aksi pembakaran dalam aksi tersebut, baik pembakaran bendera palu arit maupun bendera PDI Perjuangan.

Juru bicara PA 212 Haikal Hassan juga senada. Dia mengaku sama sekali tidak melihat aksi pembakaran bendera PDIP saat demo berlangsung,

Kini, setelah banteng bangun dari tidurnya semua tiba-tiba cari ilmu selamat. Kalau pembakaran bendera tidak direncanakan, terus buat apa bendera palu arit dan bendera PDIP dibawa? Buat apa Furgoso??

Keputusan PDIP membawa masalah ini ke jalur hukum sudah menjadi keputusan resmi partai. Lagipula Negara ini kan Negara hukum. Cara apa lagi yang paling beradab untuk menyelesaikan masalah?

Jadi kalian kaum kadrun bersiaplah. Kini saatnya negara yang bersikap. Sudah terlalu lama kalian dibiarkan bertindak sesuka hati di negara ini. Polisi harus segera mengusut pembakaran bendera PDIP, ungkap semua dalang di belakangnya.

Ungkap sekalian siapa pendana demo kemarin. Sesungguhnya rakyat sudah muak dengan sikap mereka yang seakan-akan bisa bertindak semaunya. Di satu saat mereka menolak Pancasila, di lain saat mereka pula yang berkoar-koar membela Pancasila.

Sudahlah, kita semua sudah tahu kedok kalian. Yang kalian tidak tahu, satu hal, dimana-mana Onta dan Kadal tidak mungkin menang melawan Banteng.

By: Elrodo Natama
Tiada Maaf Bagimu, Kadrun!

0 Response to "Kadrun Kena Batunya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel