Karena Jejak Itu Nyata

Temaramnya surya, melahirkan malam. Esok pagi, sang fajar PASTI datang. Burung-burung berkicau riang, bungapun tersenyum dalam semerbak wanginya. Embun pagi yang entah mengapa, selalu membundar dan kemudian runtuh dalam beratnya sendiri, seolah takdir bagi pelengkap drama kehidupan itu.


Misteri Alam kembali berulang dalam lingkaran abadi yang terselubung tanya, kenapa?

Ironisnya, makhluk tercerdas yang mengaku sebagai satu-satunya pemilik warisan semesta milik Sang Khalik itu justru tak memiliki kecerdasan sederhana membaca nikmat ini.

Mereka sibuk dengan murka dan tertawa dalam angkara. Mereka bangga dengan yudha bersimbah darah sesama.

Nestapa meraja, duka menggelora dan..., buanapun menangis......

Disana, bukan drama menyedihkan tentang tetes airmata duka kita bercerita. Ini tentang arogansi manusia yang bangga dengan kecerdasannya, namun tak sadar sedang mempermalukan diri sendiri.

Agama kita maknai sebagai perjanjian bermaterai dalam bentuk kitab. Kita akui itu sebagai perintahNya. Kita berjalan dengan pongah karena "rasa" sepihak sebagai salah satu utusanNya.

"Benarkah?"

Ketika nurani kita tak bergeming atas rintihan sesama yang terdengar parau meminta ampun dan pedang kemudian tetap menebas leher itu dan lantas memisahkan badan dengan kepala dan kita berteriak "Tuhan Maha Besar" dan kita bergembira, benarkah itu?

Ketika mata tak berkedip, telinga seolah tuli menyaksikan dan mendengar teriakan kesakitan tubuh yang berkelojotan akibat terbakar saat kita memusnahkan kaum yang tak sepaham dengan kita dan sekali lagi kita berteriak "Tuhan Maha Basar" dan dalam hati kita, kita bersyukur, benarkah itu?

Entahlah.....😢

Binatang yang tak diberi karunia kepandaianpun tak ada yang melakukan kegilaan itu.

Bukan hanya kepandaian, akhlakpun katanya adalah hak melekat yang menjadi milik tak terbantahkan dan kita merasa lebih baik dari binatang?

Pahala, pahala, janji surga dan janji surga hanya itu yang kita pikirkan.

Saatnya kita merenung...

Diluar sana, diantara celah desakan nafsu tak berbatas itu, sekali lagi terdengar teriakan benderang kebodohan tak berujung.

"Pecat dia dari suku kita...!!"

Sudah tahu teriakan itu adalah bukti kebodohan tak terperi, eeh...,disambut dengan gempita.

Lah, emang suku, darah yang mengalir sebagai bukti keturunan bisa dihapus apa? Emang ada apa, pecatan minang, jawa, batak??? Pecatan menteri banyak!

Sungguh, kebodohan tak terperi itu memang ada..! Dia ada dan banyak, karena dari sebab kebencian yang tak tahu datang dari mana.

"Koq kebencian? Bukankah Tuhan itu Maha Pangasih lagi Maha Penyayang?"

Sejarah mencatat bahwa Melayu sebagai bangsa, adalah bangsa besar dan berbudaya sangat maju.

Mohamad Hata, siapa tak mengenalnya? Satu dari banyak pahlawan besar republik ini yang dilahirkan dari bangsa dan budaya itu.

Buya Syafii Ma'arif, pemikir sekaligus tokoh yang sangat luar biasa, tokoh yang bersanding lurus antara perkataan dan perbuatannya yang juga adalah contoh hidup bagaimana Melayu mendarah dalam dirinya.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan diambil dari bahasa melayu adalah bukti nyata kebesaran Melayu sebagai bangsa.

Namun sejarah hitam bagaimana pembantaian masyarakat pagaruyung sebagai masyarakat Minangkabau kuno dan juga pembantaian suku Mandailing di Sumatra Utara adalah gambaran seram bagaimana sebuah masyarakat tiba-tiba berubah.

Masyarakat Minang yang santun, ramah dan berbudaya tinggi tiba-tiba berubah menjadi sangat kontras. Pembantaian terhadap kedua masyarakat yang berbeda pandangan dilakukan.

Menurut Franz Wilhelm Junghuhn (naturalis, geolog dan pengarang berkebangsaan Jerman), 200 ribu orang dari suku Batak Mandailing dan Sipirok jadi korban.

Ribuan masyarakat Minangkabau sebagai rakyat dari istana Pagaruyungpun dibantai hanya karena mempertahankan budaya nenek moyang mereka. Masyarakat islam yang dibantai karena dianggap kurang islam dubandingkan dengan aliran wahabi saat itu.

"Loh, koq wahabi??"

Imperialis Inggris tahu bahwa dia tak mungkin menang melawan Turki Ottoman sebagai khilafah besar dan jaya pada abad 18 tanpa berbuat curang. Memecah belah Islam yang dipimpin oleh Ottoman adalah satu-satunya cara.

Jadilah Muhamad bin Abdul Wahab sebagai cikal bakal pendiri aliran wahabi dan penguasa Dir'yah Muhamad bin Saud yang seharusnya setia pada Khliafah Utsmani atau Ottoman dipertemukan. Mereka rela berkhianat kepada Ottoman demi janji muluk imperialis Inggris.

Dalam waktu singkat, kelompok ini berhasil mempreteli kekuasaan Ottoman di Teluk Persia, Oman, Qatar, Baharain hingga Karbala di Iraq. Di Karbala seperti kesetanan mereka mengahancurkan makam Imam Ali bin Abdul Thalib, Husain, hingga putri tercinta Fatimah.

Tahun 1803 menyerbu Mekah, dan 1804 mereka menguasai Madinah. Makam nabipun tak luput dari penjarahan. Mereka membunuh banyak Syeik dan warga muslim dikedua kota itu karena menolak paham mereka.

Pada saat Mekah dikuasai Wahabi, beberapa orang dari minang melakukan ibadah haji, disana ajaran baru ini mereka terima. Mereka belajar dan menerima aliran baru yang keras dan membawanya pulang.

Maka, melihat tahun, yakni perang Paderi yang terjadi pada waktu yang bersamaan dengan sejarah dimana kota Mekah dan Madinah dikuasai oleh pemberontak Ottoman, kini memiliki relevansi atas pembantaian di Pagaruyung maupun di Mandailing.

Mereka berlaku sama dengan siapa yang memberi pelajaran. Mereka mencontoh apa yang dilakukan gurunya, yakni penguasa baru di Mekah saat mereka beribadah haji pada tahun 1800an.

Kini jejak itu kembali tampak. Kebodohan atas cara berpikir sempitpun dengan mudah mereka terima. Tak penting apa itu logika, tak penting pula apa itu nalar, yang penting, janji surga yang diucapkan pimpinannya, sudah lebih dari cukup dibandingkan dengan apapun.

Kini saudara kita sedang melakukan pekerjaan mustahil, memecat Armando dari sukunya dan mencoba membuang darah minang yang mengalir dalam tubuh Armando.

"Berhasilkah?"

Jangankan hanya memecat Armando, tak ada hal mustahil apalagi istilah halu bagi kaum seperti itu. Merubah sejarah Indonesia yang merdeka dari Belanda dengan melalui pengorbanan darah para pahlawannya, menjadi merdeka karena pemberian dan hadiah dari Arab Saudipun mereka percaya.

Bumi datar, matahari mengelilingi bumi hingga konspirasi manusia yang telah mencapai bulan adalah keniscayaan bagi mereka.

Ya...,mereka akan sibuk menolak setiap gagasan, bahkan bukti baru atas pencapaian olah pikir umat manusia.

Bagi kita, misteri Alam akan temaramnya surya sebagai tanda penutup hari dan segarnya embun saat pagi merekah yang dimulai dari sapaan hangat sang surya, akan terus berulang dalam lingkaran abadi yang terselubung tanya tak terjawab adalah makna keindahan itu sendiri.

Berterimakasih atas hari baru dengan terbitnya matahari yang masih dari sebelah timur, bersama kicau burung, semerbak wangi bunga dan tetes embun pagi, ucapan "selamat pagi teman", adalah cara sederhana mensyukuri nikmatNya.

Sumber: Karto Bugel

0 Response to "Karena Jejak Itu Nyata"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel