Kaum Sumbu Pendek Bela Pancasila, Bener Gak Ya?

Sebelumnya, banyak beredar video viral yang menunjukkan kerumunan masyarakat berjubah meneriakkan takbir setelah "berikrar" kepada Khilafah. Lalu ada juga pengurus HTI, ormas yang sudah dilarang keberadaannya oleh pemerintah, tidak menjawab secara tegas pertanyaan reporter Kompas TV, Aiman, apakah Khilafah akan mengganti ideologi negara Pancasila? Setujukah dengan Pancasila?

Sekarang terjawab sudah, Rabu (24/6), kembali komunitas jubah melakukan pekerjaannya, aksi demo di depan DPR RI. Mereka tegas menolak ideologi asing, yakni komunis, masuk ke Indonesia apalagi difasilitasi oleh undang-undangan. Mereka menyatakan menentang penggantian Pancasila sebagai ideologi negara bahkan akan mempertahankannya. Hebat bukan? Salut kepada komunitas jubah dan sorban. Tapi benarkah?



Sejak awal saya memang berharap agar mereka ya begitu, bela agama itu ya bela tanah air. Bela tanah air itu ya bela NKRI, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Bukan menolaknya bahkan selalu berteriak Khilafah, dan bendera yang dikibarkan adalah bendera HTI. Bendera Indonesia masih merah putih, bukan yang lain. Selama merah putih masih tegak berkibar, mari lawan terorisme yang ingin menghancurkan bangsa.

Selama ada Pancasila, mari lawan segala faham atau isme yang ingin menggantikannya, baik itu komunis maupun khilafah. Lawan setiap anasir asing yang ingin menguasai Indonesia termasuk ISIS. Itu ancaman riil dari luar. Sementara ancaman dari dalam sendiri yakni kemiskinan dan kebodohan. Untuk itu pemerintah tengah fokus pada pemberdayaan SDM yang unggul, agar masyarakat Indonesia cerdas dan tidak selalu dibodohi.

Mari fokus memerangi kedua ancaman tersebut. Jika ada masalah silahkan catat dan sampaikan kepada yang berwewenang, ada pemerintah desa, daerah maupun pusat. Jika ini dilakukan dengan benar, maka tidak sampai setahun Indonesia benar-benar bisa bangkit dan maju melesat meninggalkan negara-negara lainnya. Awal yang baik jika memang benar kaum jubah melantangkan "Kami Pancasila". Berarti sudah tidak ada teriakan khilafah lagi.

Pancasila itu dalam butir ke empat menyebutkan, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Jadi tidak perlu ada lagi dema demo yang hanya menguras energi, biaya dan bisa menghambat program-program pemerintah yang justru tengah mewujudkan butir ke lima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Itu baru benar-benar "Kami Pancasila".

Namun, jika teriak Pancasila namun masih tetap mengibar bendera HTI, diam-diam masih tertanam doktrin khilafah, dan masih tidak mengamalkan butir ke empat, dan lebih suka memakai cara keributan dan kerusuhan sampai provokasi, itu bukan "Kami Pancasila". Karena Pancasila tidak cukup hanya diucapkan (meski juga tidak hafal dan blepotan baca teks Pancasila).

Pancasila harus menjadi panduan bagi setiap warga dalam berperilaku. Pancasila harus menjadi kesadaran riil, menjadi urat nadi, menjadi ruh ataupun jiwa setiap kita bangsa Indonesia. Tanpa begitu, maka niat "Kami Pancasila" adalah palsu. Ia hanya dijadikan rekayasa politik, agar seolah-olah Pancasila hanya untuk menyerang kelompok lain. Karena sekarang ini mudah saja menjadi seorang aktor drama. Teriak rezim komunis tapi ia bebas bersuara.

Jika rezim ini komunis, maka Anda tidak akan bisa menyelesaikan pembicaraan di mimbar-mimbar. Langsung diseret keluar ruangan dan tidak pulang-pulang. Setiap ruang publik akan dikawal atau dijaga Intel sehingga tidak bebas menyuarakan apa saja. Aksi unjuk rasa akan berhadapan dengan tank dan siap digebug dengan popor ataupun ditendang diinjak dengan sepatu lars tentara.

Tempat ibadah seperti masjid dan kampus tidak diperkenankan menelaah kajian faham-faham asing. Itu yang terjadi di masa orba. Ingat dan jangan lupakan kasus Tanjung Priok, pembantaian umat muslim oleh rezim Suharto. Melarang adanya pengajian dan ormas yang membahas politik. Sementara sekarang umat muslim sangat merdeka. Tercatat banyak sekali ormas muslim yang ada di Indonesia.

Ada pengajian dan mimbar-mimbar yang bebas membahas politik. Bahkan tidak sedikit tokoh-tokoh agama menyerang hingga menghujat presiden Jokowi. Sesuatu yang di masa orba benar-benar dilarang. Kembali kepada semangat Bela Pancasila, kita perangi kebodohan yang bisa menyebabkan disintegrasi bangsa. Kita bangun masyarakat yang cerdas jangan mau dibodohi dengan iming-iming sorga.

Sorga itu bukan milik siapa-siapa, ia milik Allah SWT, sehingga jangan pernah mengaku adanya jaminan masuk sorga. Terakhir, pesan buat pak Din yang pernah nyinyir konser amal virtual di masa pandemi, dan juga kepada Gubernur DKI yang punya otoritas menjaga dari penyebaran covid 19 di Jakarta, mohon pikiran, ucapan dan tindakan tidak menggunakan standar ganda. Bersikap lah gentle, konsisten dan konsekuen. Jangan pilih-pilih. Demikian. (Awib)

Sumber: Agung Wibawanto

0 Response to "Kaum Sumbu Pendek Bela Pancasila, Bener Gak Ya?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel