Megawati dan Gusdur dalam Perjuangan untuk Negeri Demokrasi

“Kader NU dan PDIP adalah pejuang,” kata Megawati dalam pidato ketika memperingati hari lahir Pancasila yang digelar di area makam Mantan Presiden Soekarno di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar, Senin malam pada 5/6/2017 silam.

Pada kesempatan itu, Megawati pun teringat sosok Gusdur yang kerap mengingatkan tentang perjuangan.

Seperti yang kita ketahui bersama, begitu banyak cerita mengenai Megawati dan Gusdur. Begitu banyak versi yang beredar. Diantaranya bagaimana perjuangan Megawati dan Gusdur yang bertemu secara sembunyi-sembunyi pada zaman Orde Baru.

Salah satu kisah pertemuan Gusdur dan Megawati yang fotonya sempat viral adalah kejadian di tahun 1994. Ketika itu, Gusdur dan Mega bertemu di makam Sunan Ampel Surabaya. Awalnya, Gusdur memberi kabar ketidak hadirannya. Namun, pada malam harinya ternyata Gusdur hadir. Meskipun tak diceritakan, kemungkinan besar kabar tidak hadirnya Gusdur adalah salah satu cara supaya rezim Soeharto tak mengendus pertemuan kedua tokoh tersebut.



Ada cerita menarik yang juga diabadikan ketika itu, dimana Gusdur sebelum bertemu Megawati mendapat salam tempel berupa amplop dari umat. Setelah dibuka, isinya Rp 5000. Mereka berdua pun tertawa bersama.

Megawati dan Gusdur diceritakan sudah seperti kakak dan adik. Bahkan Mega pun memanggil Gusdur dengan sebutan Mas. Soal apakah mereka pernah berselisih paham atau berbeda pendapat? Tentu saja pernah namun hal tersebut tidak merusak ikatan baik kedua tokoh tersebut.

Salah satu momentum kemarahan Mega kepada Gusdur adalah ketika menjelang pemilu 1997. Saat itu, Gusdur bersafari bersama Siti Hardianti Rukmana alias Mbak Tutut. Hal itu membuat Gusdur dipandang mendukung keluarga ‘Cendana’. Ketika itu, Megawati pun menyerukan pendukungnya untuk Golput. Karena hal itu, Gusdur pun terlihat seperti kebakaran Jenggot.

Gusdur yang mengecam pernyataan Megawati pun akhirnya mengundang antipati prodemokrasi. Karena Gusdur dianggap membiarkan Megawati berjuang sendiri, ketika itu pun nama Gusdur dicoret dari tokoh jajaran prodemokrasi.

Pada tanggal 27 Juli 1996 kantor PDI diserbu oleh sekelompok masa yang ditenggarai ditunggangi oleh kalangan militer. Hal tersebut buntut dari terpilihnya Megawati menjadi ketua umum PDI ketika itu. Peristiwa berdarah tersebut terkenal dengan peristiwa “kuda tuli”.

Pada peristiwa “Kuda tuli”, Gusdur menasehati Mega untuk tidak melawan dan rujuk dengan pemerintah. Tak lama dari itu, hubungan Gusdur dan Mega pun kembali mencair, bahkan keduanya pun tak jarang saling melontarkan pujian.

Dalam sebuah kisah, ketika Mega dan Gusdur selisih pendapat, Gusdur datang ke tempat Megawati tanpa memberi kabar. Setelah sampai tak lupa Gusdur pun meminta Mega untuk membuatkan nasi goreng.

Pada tahun 1998, Gusdur berjanji akan mendukung Mega untuk menjadi Presiden. Namun, meskipun menang, pemilihan presiden pun alot, dimana ketika itu Presiden dipilih dan diangkat oleh MPR. Poros tengah yang dipimpin Amien Rais pun akhirnya memberi pilihan supaya Gusdur yang dijadikan Presiden.

PDI P yang menang pemilu ketika itu mau menerima Gusdur menjadi Presiden, dan Mega menjadi wakilnya. Hal itu pasti sangat dipahami karena kedekatan mereka berdua. Inilah politik yang penuh dengan intrik. Awalnya Gusdur tak mau menjadi Presiden dan mendukung Megawati, tetapi apa daya, orang-orang di MPR ketika itu tak menginginkan itu.

Kedekatan serta perjuangan Gusdur dan Mega di masa Orde Baru kerap disimbolkan dengan perlawanan kaum nasionalis dan religius melawan kediktatoran Soeharto. Bahkan banyak beredar cerita, mereka berdua dianggap sebagai tokoh penggerak reformasi yang sesungguhnya. Sedangkan yang lain numpang tenar saja.

Terkait lengsernya Gusdur dan Mega naik menjadi Presiden, akhir-akhir ini digodok untuk memecah belah akar rumput PDI P dan NU. Hal tersebut karena kebesaran kedua tokoh tersebut di masing-masing kelompok tersebut. Namun yang perlu dipahami, banyak orang NU yang juga ada di PDI P dan bahkan diusung menjadi kepala daerah. Dan dulu ketika PKB belum didirikan, Gusdur pun merekomendasikan orang NU untuk memilih partai besutan Megawati tersebut.

Terlepas dari cerita-cerita yang beredar. Baik dan buruknya. Marilah kita ambil sisi baiknya. Dan saat ini, duet kader PDI P dan tokoh NU pun sudah terjadi kembali melalui Jokowi dan Kyai Ma’ruf. Oleh sebab itu, baik kader PDI P dan kader NU mesti bersatu melawan permasalahan yang ada di Indonesia.

Bukan hanya kader PDI P dan NU, tetapi seluruh elemen masyarakat yang mengaku warga negara Indonesia. Karena siapapun pemimpinnya, mereka dipilih secara demokrasi. Oleh sebab itu, setelah persaingan selesai, maka sudah menjadi kewajiban untuk sama-sama membangun negeri. Hal itu pun sudah dicontohkan oleh Prabowo, mantan rival Jokowi di pilpres selama dua priode yang kini masuk dalam jajaran menteri Jokowi.

Oleh sebab itu, jika masih ada yang nyeleneh dan berbuat macam-macam, sudah jelas kelompok tersebut menginginkan kemunduran bagi Indonesia karena bukannya kerja sama membangun bangsa, tetapi justru memperburuk situasi seperti yang akhir-akhir ini terjadi terkait propaganda dan isu-isu yang memecah belah bangsa.

By: Cak Anton
Rasa Sakit yang Dialami Mega dan Gusdur dalam Perjuangan untuk Negeri Demokrasi

0 Response to "Megawati dan Gusdur dalam Perjuangan untuk Negeri Demokrasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel