PDI-P yang Selalu "Diserang" dan SBY yang Baperan

Megawati itu sudah biasa ditekan semenjak Bung Karno lengser. Sebisa mungkin, Megawati akan dijegal untuk bisa besar dalam pentas politik Indonesia semasa Orde Baru. PDI ketika itu, sebisa mungkin tetap dalam genggaman Soeharto melalui orang-orang yang ditanam dalam partai berlogo banteng tersebut.

Kasus Kudatuli
Akar rumput yang militan dan terkadang main hantam tanpa pandang bulu mencerminkan kekuatan banteng yang pantang mundur ketika sudah masuk dalam arena, itulah yang tak bisa dibendung ketika Megawati terpilih menjadi ketua umum PDI Kongres Surabaya. Cara kekerasan pun dilakukan untuk menggagalkan Megawati menguasai PDI ketika itu. Pada 27 Juli 1996, kantor PDI diserbu dan ditenggarai militer ikut di dalamnya. Jika sudah ada militer, sudah jelas ada tangan Soeharto di situ.

Dugaan ikut sertanya Soeharto dengan kekuatan militernya pun diperkuat dengan pengakuan politikus partai Golkar bernama Yorrys Raweyai yang juga aktif dalam Pemuda Pancasila yang ditangkap polisi karena terbukti mengerahkan massa. Yorrys mengaku diperintahkan oleh Asisten Intelijen Kodam Jaya, Kolonel Haryanto yang ketika itu bawahan dari Sutiyoso dengan jabatan Panglima Kodam Jaya. Pada tahun 2004, Sutiyoso pun ditetapkan menjadi tersangka oleh pihak kepolosian terkait pelanggaran HAM tersebut. SBY yang juga menjadi bawahan Sutiyoso saat kejadian tahun 1996 pun tak luput dari pemeriksaan terkait tragedi yang memakan korban nyawa tersebut. Namun, pada tahun 2004 ketika Sutiyoso ditetapkan menjadi tersangka, SBY sedang mengikuti pemilu. Pada akhirnya, SBY pun dipropagandakan sedang dizalimi dan lain sebagainya. Di masyarakat ketika pemilu 2004 banyak yang tidak suka dengan Megawati karena dianggap zalim terhadap SBY.

Kebanyakan orang yang tak mengikuti kasus ini, akan menganggap Megawati benci pada SBY karena kalah pilpres. Padahal secara mendasar, begitu banyak perhitungan yang harus dibuat PDI P kepada SBY, namun kepentok terpilihnya SBY menjadi Presiden selama dua priode.

Pada tahun 2018 lalu, PDI yang berubah menjadi PDI Perjuangan pun kembali menyeret nama SBY ke Komnas HAM. Tak hanya tragedi 27 Juli 1996, tetapi kasus Semanggi, Trisakti dan Tanjung Priok. Menjadi tak heran jika kecil kemungkinanannya Megawati mau dengan tulus menerima SBY dalam koalisi politik.

Pada penyerbuan kantor PDI yang terjadi tanggal 27 Juli 1996, Megawati meredam para kader untuk tidak terprovokasi. Hal itu dilakukan supaya kerusuhan tidak meluas. Kebiasaan diam dan tak banyak bicara adalah salah satu cara seorang Megawati untuk membuat situasi Indonesia damai dan terkendali. Meskipun fitnah dan cacian kerap ditujukan padanya, tetapi dia diam dan tak pernah mau berkomentar apalagi memprovokasi. Kalau dia berkomentar, kita bisa membayangkan, maka para banteng-banteng muda darahnya bisa mendidih.

PDI P adalah partai pemenang pemilu. Mau diakui atau tidak, memiliki banyak akar rumput yang setia dan loyal. Data tersebut sangat jelas, bukanlah klaim semata.
Meskipun anak dari sang Proklamator, Megawati itu merangkak dan penuh perjuangan untuk membesarkan PDI P bersama kaum Marhaenis yang menjadi simbol perjuangan wong cilik.

Terlepas dari masalah SBY dengan PDI P, sebagai mantan presiden, SBY seharusnya bisa bijak dan jangan ada kesan memprovokasi anak negeri.
Seperti yang kita ketahui bersama, sebelum kejadian rusuh 411 dulu pun SBY mengadakan konpres yang membawa-bawa lebaran kuda. Konpres tersebut bukan memberikan kedamaian, tetapi justru berpotensi menyulut provokasi.

Pada demo yang berujung ada pembakaran bendera PDI P kemarin pun sebelumnya SBY bercuit, dengan dalih tak ingin suasana panas, tetapi orang waras melihat justru SBY seperti menyulut provokasi. PDI P pun merespon pembakaran tersebut dengan mendamaikan supaya para kader dan akar rumput tidak terprovokasi.
Berbeda dengan cuitan SBY berikut ini.

Saya mengikuti hiruk pikuk sosial & politik seputar RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Saya juga sudah membaca & mengkaji RUU tsb. Tentu ada pendapat & tanggapan saya. Namun, lebih baik saya simpan agar politik tak semakin panas SBY.

Dari cuitan di atas, saya rasa anak kecil pun tahu bahwa cuitan tersebut tidak mendamaikan justru memanaskan suasana. Kalau mau mendamaikan, seharusnya SBY diam atau ngobrol di belakang layar selayaknya negarawan yang perduli terhadap nasib bangsanya.

By: Cak Anton
Munculnya SBY Seperti Memberi Perintah untuk Merusuh di Negeri Sendiri? 
https://seword.com/politik/munculnya-sby-seperti-memberi-perintah-untuk-ALIK0UZp5b

0 Response to "PDI-P yang Selalu "Diserang" dan SBY yang Baperan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel