Pokoknya Harus Hijau Seperti Kami!

Mungkin tidak, kita merasa greng akan sesuatu yang tak kita mengerti? Atau kebebalan tak berujung misalnya?

Saya berteriak mohon ampun, namun pukulan dan hantaman tetap tak berhenti?

Saya suka dengan hijau, tapi saya marah bila melihat orang lain memakai merah?

Saya mencoba menalar semua itu dengan susah payah, dan jawaban tak kunjung, bahkan bila hanya bayangannya saja yang tampak.

Diluar sana, hal itu terjadi. Gilanya, itu terus dan terus berlangsung seolah tak kenal apa itu lelah.

Pantaskah gelar pahlawan dilekatkan bila yang dilawan, bahkan pembunuhan berlangsung dalam tawa karena rasa sebagai bagian dari utusan dan kehendakNya?

Satu kampung mati. Satu suku, bahkan hampir musnah. Kemudian karena yang dilawannya pada saat terakhir adalah penjajah, pantaskah pembunuhan terhadap saudaranya yang berjumlah sekampung itu dianggap tak pernah ada?

Pernah dengar perang paderi? Pernah tahu betapa suku mandailing hampir saja punah hanya karena tetap memilih berbaju merah meski hijau dipaksakan?

Pernah dengar pemilik kampung, sang pemilik waris atas tanah Pagaruyung diusir oleh pendatang hanya karena tak sepakat berbaju hijau sama persis dengan pendatang, dan tetap bertahan dengan baju hijaunya yang sedikit bergaris kuning karena adat nenek moyangnya memintanya demikian, lalu justru terusir bahkan harus dianiaya dahulu?

Pokoknya harus hijau seperti kami!!

Dan lalu pemilik baju hijau ini membawa parang, pedang bahkan api demi hukuman yang akan mereka jatuhkan bagi yang tak sepakat?

Itukah kebenaran? Itu perintah Tuhan dan mereka akan berdosa bila tak melaksanakan perintah itu? Pahala?

Harusnya itu kriminal.

Adakah kebodohan yang sama dimasa kini berangkat dari guru serta asal yang sama, yang ketika melihat perempuan tak tertutup, lalu merasa berdosa, dan karena takut dosa lalu melarang perempuan itu lewat dari hadapannya, dan bila tak menurutinya, perempuan itu sah untuk dipukul atau disiksa karena telah menjadi sumber dosa?

Dan hari ini kita tertunduk lesu tak mampu berbuat karena negara juga takut?

Ya..,nalarku tak mampu mencernanya. Nalarku tak memiliki ruang bagi kebodohan tak terperi semacam itu.

Namun, temanku, tetangga kiri kananku, seolah terbiasa dengan itu. Negaraku abai dengan perkara seperti itu. Negaraku takut.

Dan saya harus diam?

Selembar nyawaku seharusnya tak lebih berharga dibanding Nusantaraku, Indonesiaku menangis.

Sumber: Karto Bugel 

0 Response to "Pokoknya Harus Hijau Seperti Kami!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel