SI BATU KARANG JOKOWI

Api dalam sekam, api yang tak terlihat wujudnya, tertutup oleh abu, dan bara didalamnya akan dengan mudah menyala saat ada yang meniupnya.

Teori sederhana yang melekat pada sebuah jaman, yakni orde baru. Soeharto membuat, menciptakan dan membutuhkan perangkat ini demi eksistensinya sebagai penguasa dan pengalihan isu.



Kebencian, rasa tak suka kepada etnis tertentu adalah sekam yang terus dipelihara. Etnis China diajak bisnis, dibuat seolah lebih makmur dan pribumi tak diurus dengan benar, menimbulkan jarak tak menyenangkan dan iri.

Ketika ingin menutupi sesuatu, atau bahkan dirinya secara politik terancam, isu ini ditiup. Api dengan cepat akan segera menyala dan membakar. Dalam riuh kebakaran itu pekerjaan sesungguhnya tak lagi tampak. Semua orang sedang teralihkan dalam bakar membakar.

Rakyat senang, penguasa aman. Rakyat dapat melampiaskan kemarahan, sang penguasa mendapat apa yang diinginkan. Demikian hal ini terus berjalan selama 32 tahun.

Jejak itu kini masih terasa. Rasa tak suka kepada etnis China masih terus digaungkan seolah demikiakah sifat kita sebagai orang Indonesia adalah tukang ngamuk memang kodratnya.

"Benarkah?"

Rasa pilu dan bersalah melekat pada sebagian besar saudara kita. Kita malu dan marah sebagai bangsa ketika tahun 98 ribuan etnis China menjadi korban dibakar, diperkosa bahkan terusir dalam ketakutan atas sesuatu yang mereka tak tahu kenapa.

Peristiwa rakyat yang tak lagi percaya kepada pimpinannya yang sudah terlalu lama berkuasa dan menumpuk uang demi keluarga dan kroninya digugat, dan yang diamuk China.

Demo mahasiswa 98 yang menuntut Presiden Soeharto turun berlangsung di Senayan, pembunuhan, perkosaan dan pembakaran justru terjadi di Jakarta Kota dan banyak tempat dimana etnis itu berdiam.

Setidaknya, tahun 80an saja, peristiwa amuk terhadap etnis ini terjadi beberapa kali di banyak tempat di Indonesia. Semua selalu terkait dengan poilitik.

Kini, isu itu tiba-tiba muncul kembali. Sedikit berbeda, isu itu, kini beralih kepada China sebagai negara dan dikaitkan dengan PKI. Isu yang sama yang selalu dipakai orde baru demi menebar rasa takut akan teror kekejaman PKI yang melahirkan Orde Baru.

Sedikit berbeda, kini isu itu diagaungkan bersamaan dengan agama yang dipakai sebagai kendaraan. Kebencian kepada China sebagai pendukung PKI dan konsep mayoritas minoritas. Semuanya mengarah pada satu tujuan, amuk masa.

Melihat fisiknya, gayanya, orang ini tak layak masuk radar "mengkhawatirkan". Bila terjadi perlawanan kuat di tahun 2014, unsur Partai PDIP lah yang ingin ditolak.

PDIP adalah partai yang membuat banyak pihak terutama sempalan Orde Baru yang sudah mulai kembali eksis kawatir dan takut. PDIP tak boleh menjadi Partai penguasa seperti saat Megawati harus dubungkam tahun 2004 dengan dijagokannya SBY yang lebih bisa diterima kelompok itu.

Mereka "kecangar", mereka salah prediksi, mereka benar-benar terpukul habis hingga terjungkal tanpa ampun oleh sosok tak mereka anggap sebelumnya, hingga julukan konyol disematkan padanya, yakni "pejabat partai" boneka Megawati.

"Kucek-kucek" mata seolah tak percaya bahwa yang berdiri dihadapannya adalah sosok cunkring dan wagu, namun pengar diseluruh tubuhnya membuktikan bagaimana hebat pukulan-pukulan yang sudah mereka terima.

Mereka mencoba bangkit, namun hanya niat dan kebenciannya yang tampak, badannya kembali tersungkur, bersimbah peluh dan darah.

Maka perlawanan super hebat, mereka berikan dengan mengusung semua senjata, bahkan bila resiko negara ini harus bubar, mereka sama sekali tak peduli. Isu PKI dan kebencian agama mereka gunakan sekaligus dalam "paket hebat" yakni pilpres 2019, dan berharap negara ini terbakar, dan sekali lagi mereka tetap kalah.

Puluhan dan bahkan ratusan kali usaha meniup sekam agar berubah menjadi api, kini tak memiliki arti apapun.

Bahkan api terbesar pernah mereka hasilkan, namun hanya Ahok yang terbakar sebagai orang terdekat Jokowi. Ahok memberikan badannya terbakar demi melindungi Jokowi.

7 juta orang digemborkan akan mampu menjungkalkan Jokowi. Antiklimaks terjadi, mereka terhanyut dalam kagum dan takluk ketika justru orang yang ingin mereka bakar hadir dan berdiri ditengah api yang mereka siapkan. Bak panglima perkasa tak takut api namun santun, Jokowi langsung membuat api besar yang siap menyala itu padam seketika.

Tertunduk lesu dalam marah dan dendam, sang imam besar itu takluk. Dia kini justru terlempar jauh. Mulutnya tak lagi memiliki kemampuan meniup sekam yang dulu pernah menjadi harta warisan dari tuan besarnya, sang penguasa Orde Baru.

HIP Haluan Ideologi Pancasila sebagai inisiatif DPR, dimaknai sebagai pintu masuk mengungkit dan kembali menciptakan api baru dari sekam yang kini semakin mengecil.

Tiupan mulut sang imam dari negeri seberang tak lagi menjangkau. Sia-sia dia makan dan minum berharap tenaga besar dapat dikumpulkan, namun sekam itu tinggal abu tak berarti. Hanya api kecil dapat diciptakan.

Demo tak memiliki makna dan berakhir sia-sia meski tuntutan tak masuk akal mereka coba teriakkan yakni turunkan presiden didepan gedung MPR. Mereka berharap memiliki moment bakar.

Kekurangan dana, tak ada koordinasi, justru membuat sebagian anggotanya pulang sia-sia dengan perut lapar hingga Polres Jakarta Barat harus memberi mereka makan.

Mereka hanya mampu menyalakan lilin.

Api dalam sekam yang mereka simpan itu semakin mengecil. Kayu dan bensin yang dulu selalu siap mereka suplai kini semakin menipis dalam gudang. Mereka menuju bangkrut.

Mungkinkah batu karang akan terbakar, hanya mimpi basah mereka dapatkan atas hasrat bejat tak tersampai. Sia-sia membakar karang, tak pernah mereka pahami.

Mereka tidak lebih hanya kaum yang senang bermimpi, dan Jokowi adalah karang kokoh yang dulu mereka remehkan.

By: Karto Bugel

0 Response to "SI BATU KARANG JOKOWI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel