9 Ustad Bermasalah di Indonesia

Beberapa hari yang lalu viral cerita ustad muallaf. Mengaku anak dari seorang bapak kardinal, dan ibunya adalah evangelist. Dia adalah Ustad Fauzan Al-azmi. Pengakuannya semakin drama karena mengkalim sebagai misionaris. Lalu sekarang taubat dan memeluk Islam, kemudian jadi ustad. Begitu kira-kira kisahnya, sehingga dielu-elukan para jemaah.



Namun belakangan, diketahui bahwa nama asli ustad tersebut adalah Joko Subandi. Ibunya bernama Surahma, bukan Maria Laura seperti yang diklaimnya. Lebih dari itu, muncul lah beberapa kasus kriminal yang melekat dengan Joko Subandi ini. mulai dari kasus pencabulan, nikah sirri hingga penipuan.

Namun saya tak tertarik dengan kasus-kasus tersebut. Karena setiap orang punya kasus. Tapi pengakuannya soal anak Kardinal ini luar biasa bego. Karena mereka yang menyandang status Kardinal, tidak menikah. Lalu bagaimana bisa punya anak? selain itu Kardinal untuk Katolik. Sementara Evangelist di Kristen. Bagaimana bisa bersatu dan punya anak?

Tapi sudahlah. Itu hanya penipuan. Cerita bohong yang disampaikan dengan tujuan menarik perhatian. Agar mendapat simpati ummat.

Yang menarik dari kasus ini adalah, mengapa ada orang yang mau menjadi jemaahnya? Diterima di banyak tempat sebagai ustad teladan.

Sebenarnya ini bukan cerita baru. Sebelumnya, sudah banyak ustad bermasalah di Indonesia. Mari saya berikan daftarnya.

Pertama Ustad Abdul Somad. Pada Pilpres 2019 lalu, Somad dengan percaya diri menyampaikan pada Prabowo, ditayangkan di stasiun teve nasional, diulang-ulang. Bahwa Somad sudah bertemu dengan ulama yang berhati suci, dan sudah memimpikan Prabowo sebanyak 5 kali. Ini artinya, Prabowo akan menang di Pilpres dan menjadi Presiden. Selain itu, Somad juga mengklaim, bahwa di semua tempat yang dia datangi, ummat kompak mengacungkan salam dua jari. Sebagai tanda dukungan untuk Prabowo Sandi. Jadi dari sisi spiritual dan fakta lapangan, tak ada yang bisa menghalangi kemenangan Prabowo.

Tapi kemudian Prabowo kalah. Telak. Prediksi Somad jadi sama seperti prediksi almarhum Ki Gendeng. Yang mengatakan Jokowi akan meninggal dunia di tahun ketiga periode pertama. Namun sampai saat ini, Jokowi masih sehat walafiat. Sementara Ki Gendeng lebih dulu wafat.

Saya tahu. Ustad bisa salah. Ustad juga manusia. Tapi sebagai teladan, seorang ustad harus sangat hati-hati dalam menyampaikan sesuatu. Terlebih tentang sesuatu yang tidak dia pahami. Kalaupun misal Somad yakin betul dengan informasi mimpi itu, mestinya disampaikan secara tertutup. Kalau disampaikan dan ditayangkan di teve nasional, itu kan masuk kategori kampanye.

Di luar itu, Somad pernah menghina artis Rina Nose. Juga bercerai dengan istrinya. Menyebut ada jin kafir di patung salib. Sungguh tidak layak dijadikan panutan.

Kedua Habib Rizieq. Orang ini mengaku keturunan nabi. Tapi kalau urusan mencaci sesama manusia, rasanya tak ada yang lebih buruk darinya. Semua kata buruk sudah pernah disampaikan Rizieq. Mulai dari mengatakan Gus Dur buta mata dan buta hati. Pancasila Soekarno ada di pantat. Sampailah fitnah uang rupiah berlogo palu arit PKI. Tapi itu hanya sebagian, di luar itu, ada banyak lagi caci makinya.

Tapi dengan begitu, dengan ucapan yang sangat jorok itu, Rizieq tetap dielukan sebagai ulama, kerutunan Nabi.

Ketiga Ustad Sugi Nur. Ceramahnya tidak ada materi pelajaran agama. hanya berisi provokasi dan caci maki. Begitu banyak umpatan dan kata kasar sudah pernah diucapkan oleh Sugi Nur. Setingkat di bawah Habib Rizieq soal makian. Juga setingkat di bawah karena dia tidak bisa mengklaim sebagai keturunan Nabi. Hanya mantan preman yang kemudian insaf, mencari nafkah dengan ceramah.

Keempat Tengku Zulkarnain. Jika kalian melihat twitternya, selalu yang dibahas PKI, penistaan agama, atau isu soal cebong. Pejabat MUI pusat. Tapi kalimatnya tak kalah busuk dari Sugi Nur. Kerap menyebarkan hoax, terutama yang sangat krusial soal pemerintah yang hendak melegalkan zina dan menyediakan kontrasepsi. Yang cukup memalukan, Zulkarnain ini tidak bisa tasrif.

Kelima Felix Siau. Ustad organisasi terlarang di Indonesia ini cukup familiar di kalangan artis. Felix ini muallaf. Belakangan diketahui tidak bisa mengaji. Pelafalannya sangat-sangat kacau. Penafsirannya tentang ayat-ayat dalam Alquran juga sangat serampangan.

Keenam Ustad Steven Indra Wibowo. Muallaf juga, mengaku ditasbihkan Romo Jesui di Vatikan dan romo di Gereja Katedral Jakarta. Juga mengaku lulusan S2 Leiden. Tentu saja segala pengakuannya ini bohong.

Ketujuh Ustad Bangun Samudra. Lagi-lagi muallaf. Mengaku lulusan S3 Vatikan dan mantan pastor. Badahal tidak ada universitas Vatikan. Bahkan belakangan orang ini disebut tidak lulus SMA. Lalu bagaimana ceritanya bisa langsung lulus S3.

Kedelapan Ustad Evie Effendi. Sama seperti Felix, tidak bisa baca Alquran. Pernah menyebut Nabi Muhammad Sesat. Belajarnya otodidak, tapi mengaku berguru pada Rasulullah.

Mungkin ada banyak lagi ustad abal-abal yang selama ini ikut meramaikan jagad media kita dengan pernyataan provokatif. tapi setidaknya, kedelapan orang ini, ditambah dengan Joko Subandi, kalau dikategorikan akan terbagi menjadi dua golongan.

Pertama golongan muallaf pembohong. Bangun Samudra, Steven Indra, Felix Siau, dan Joko Subandi. Semuanya sama. Berbohong, mengaku tokoh Kristen atau Katolik, kemudian masuk Islam karena mendapat hidayah. Cerita-cerita ini hanya materi ceramah yang diulang-ulang. Untuk mendapat simpati. Untuk menjadi pembenar atau mempertebal iman orang-orang Islam yang malas belajar. Atau kelompok orang-orang konsumen tetap produksi hoax.

Kedua adalah golongan ustad-ustad provokatif. Yang menyampaikan ceramah dengan cara-cara negatif. Sebut saja Rizieq, Sugi Nur, Tengku Zulkarnain dan sejenisnya.

Meskipun sudah dibuka sejelas-jelasnya, terkait fakta dan keilmuan yang sangat diragukan, tapi mereka ini masih juga dielu-elukan oleh para pengikutnya masing-masing. Kenapa? Karena para pengikutnya adalah orang-orang yang sejenis.

Untuk ustad somad misalnya, pengikutnya pasti mayoritasnya adalah pendukung fanatik Prabowo. Mayoritas lho ya. Kemudian Sugi Nur dan Tengku Zulkarnain, pengikutnya pasti dari kelompok pemarah atau preman. Soal ilmu agama tidak penting lagi, karena mereka punya kesamaan. Sementara golongan pengikut ustad muallaf, dengan segala cerita bombastisnya, hampir pasti ini adalah golongan orang-orang yang lemah imannya. Sehingga perlu penguat atau cerita bombastis untuk meyakini Islam.

Untuk golongan ustad muallaf dan penipu, sejatinya sama seperti penipuan pada umumnya. Seperti bisnis umroh first travel. Sebagian orang mungkin akan lebih mudah ikhlas, karena tujuan mereka adalah umroh. Tujuan mulia, salah satu produk agama. Bahkan haji masuk dalam rukun Islam. Tertipu karena umroh atau haji, mungkin tak akan semenyakitkan ditipu karena barang dagangan online. Tapi sejatinya sama saja, penipuan.

Begitupun dengan ustad-ustad muallaf tadi. Mereka sejatinya penipu. Tapi karena ditipu bab agama, yang ditipu kurang sensitif dan tidak emosi. Atau bahkan mungkin mencari pembenaran untuk meyakini kebohongannya. Namun sekali lagi, apapun itu, tetap saja adalah penipuan.

Percuma menyalahkan ustad bermasalah itu. Karena mereka hanya peka terhadap pasar dan memberikan sesuatu yang diinginkan oleh sebagian masyarakat. Mereka tak akan mengubah gayanya. Yang mencaci maki akan terus mencaci maki. Karena dengan caci maki itulah mereka diikuti. Yang berbohong soal pastor, mantan romo, lulusan vatikan dan seterusnya, akan terus membawa kebohongannya ke mana-mana. Karena itu materi kunci untuk mendapat simpati massa.

Maka sebenarnya wacana Menteri Agama sebelumnya, terkait sertifikasi ustad, merupakan wacana yang layak dilanjutkan. Karena fenomena ustad penipu, pembohong itu nyata ada. Yang tidak viral dibicarakan mungkin jauh lebih banyak lagi. Selain itu, orang-orang muallaf yang tidak bisa baca Alquran, sudah sangat jelas tidak layak disebut ustad. Jangankan mengartikan atau menafsirkan, bahkan bacapun tidak bisa.

Sumber: Alifurrahman
https://seword.com/umum/9-ustad-bermasalah-di-indonesia-penipu-pencaci-WeKR2Qi4QV

0 Response to "9 Ustad Bermasalah di Indonesia "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel