HIDUP TIDAK BUTUH PENILAIAN

Tertulis didalam kitab suci : "Tidak ada yang baru dibawah matahari". (Pengkhotbah 1 : 8)

Sejak jaman nabi-nabi dan jaman kerajaaan-kerajaan sampai sekarang, keadaan dan perangai manusia tidak pernah berubah. Segala sesuatu akan terus berulang dan berulang tanpa pernah berakhir. Yang pernah terjadi, akan selalu terjadi kembali ; selalu terulang dan akan selalu terulang kembali.



Setiap manusia akan marah apabila dihina atau disepelekan oleh orang lain, tidak dinilai sebagai orang baik, tidak dipuji sebagai orang beragama, tidak disegani sebagai orang yang berkedudukan ; sebaliknya orang akan bangga dan gembira ketika dia disanjung dan dipuji oleh orang lain.

Manusia membutuhkan penilaian atas dirinya. Manusia mengharapkan sanjungan dan pujian atas segala perbuatan dan tingkah lakunya.
Bukankah demikian yang terjadi pada kebanyakan orang ???

Demi sebuah PENILAIAN, seorang manusia akan berusaha mencari sarana yang tepat untuk mendapatkan PENILAIAN atas dirinya ; dan AGAMA adalah sarana yang paling ampuh untuk tercapainya tujuan itu.

Didalam kitab suci tertulis kisah tentang kemunafikan, yakni bathin manusia kotor yang sengaja dibungkus dengan bungkus kesucian yang dinamakan AGAMA untuk mengelabuhi sesamanya ; didalam kitab suci itu digambarkan tentang sosok orang-orang Farisi, Saduki, dan Guru-guru agama.

3 golongan manusia dengan bathin gelap penuh kejahatan, kecurangan, keserakahan, kepalsuan, tapi berpenampilan layaknya orang suci dan tampil didepan umum sebagai para pengajar agama.

Sampai-sampai Yesus (Nabi Isa) mengumpat kepada 3 golongan itu (Farisi, Saduki, dan Guru-guru agama) sebagai "Kaum Munafik". Seperti tertulis didalam kitab Matius bab 23, dimana Yesus berkata : "Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tapi tidak melakukannya ... semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang ... "

Kemudian Yesus pun memaki mereka : "Celakalah kamu hai pemimpin-pemimpin buta ... !!! " ; cacian itu diulangi sampai 8 kali (untuk menunjukkan betapa berbahaya dan kotornya kemunafikan ).

Demikian pula didalam legenda Tiongkok kuno dan didalam cerita silat karya Asmaraman S Kho Ping Hoo diceriterakan tentang orang-orang golongan Pek Lian Kauw dan Pat Kwa Kauw ; dua partai golongan agama yang berpenampilan agamis dengan slogan-slogan kental keagamaan tapi yang perbuatannya lebih kejam daripada iblis neraka. Yang selalu memusuhi pemerintah, suka menghasut dan menipu masyarakat, selalu menggunakan senjata-senjata beracun dan ilmu-ilmu kotor, memakai ilmu sihir untuk menaklukkan lawan, kejam, serakah, menghalalkan segala cara demi keuntungan pribadi dan golongannya.

Semua agama diciptakan oleh manusia yang telah memperoleh "Pencerahan Bathin", untuk tujuan mendidik manusia agar hidup lebih baik, untuk mengalahkan nafsu yang terus bergolak didalam diri, sehingga orang yang belajar agama menjadi sadar akan tujuan keberadaannya di bumi, bermanfaat bagi sesamanya, menjauhkannya dari perbuatan-perbuatan jahat, menerima segala perbedaan didalam masyarakat, rendah hati, tulus, penuh welas asih, dsb ...

Namun dari jaman ke jaman, penyelewengan dan penyesatan ajaran agama terus berulang dan selalu berulang. Modus-modus memusuhi pemerintah, meraih kekuasaan, adu domba, kebohongan, pembodohan, kebencian, penyesatan, terus saja terjadi.

Orang-orang yang haus penilaian pun berbondong-bondong memeluk agama, walaupun mereka tidak memahami tujuan agama yang diikutinya, tapi demi untuk memamerkan dirinya seolah-olah orang yang lebih baik daripada orang lainnya. Ramai-ramai berdandan layaknya orang beragama, walaupun sama sekali tidak mengerti intisari ajaran agama yang sesungguhnya.

Demi sebuah PENILAIAN, orang bahkan meninggalkan adat istiadat dan budaya nenek moyangnya sendiri yang begitu luhur, untuk kemudian membanggakan penampilan baru sesuai ajaran pemuka agamanya yang sebenarnya juga buta sama sekali akan ajaran benar.

Orang beramai ramai memeluk agama demi sebuah PENILAIAN bahwa dirinya memiliki kepercayaan yang sama dengan kepercayaan orang banyak, bahwa dirinya juga beragama dan bertuhan seperti tetangga dan orang-orang lainnya.

Kesempatan untuk hidup mulia amat terbuka melalui agama ; maka tidaklah mengherankan banyak bermunculan orang-orang culas yang menggunakan agama untuk memperkaya diri. Mereka hanya pandai menghapal ayat-ayat suci, pintar mengolah kata, sedikit berbahasa Arab bagi yang muslim, dan paham beberapa kata Ibrani bagi yang Nasrani ; cukuplah modal mereka untuk tampil dimuka umum mengajar umatnya dan mengumpulkan harta tanpa bekerja.

Hasilnya ... orang-orang munafik semakin tumbuh subur dimana mana. Orang-orang culas hidup semakin bebas berkedok kesucian. Orang-orang bodoh semakin menjamur bak jamur di musim penghujan.

Karena bukan kwalitas bathin yang mereka kejar, tapi PENILAIAN tampilan luar yang mereka ingin dapatkan.

Dimana bathin manusia penuh kegelapan, disitulah muncul berbagai kejahatan.

Dimana pengetahuan manusia rendah, disitu akan tumbuh orang-orang bodoh yang berlaku sok pintar.

Dimana manusia mengharapkan penilaian atas hidupnya, disitulah muncul segala kepalsuan dan kemunafikan.

Emas dinilai dari kemurniannya, bukan dari bentuk atau warnanya.

Orang yang menilai emas karena bentuk dan warnanya pasti akan tertipu ; sebaliknya seorang ahli emas tidak pernah peduli dengan warna dan bentuknya, tapi akan meneliti terlebih dahulu kemurnian logam mulia itu untuk menentukan harganya.

Demikian pula dengan orang yang berpengetahuan luas tidak peduli dengan segala penilaian dari orang lain.

Orang mabuk perlu dituntun agar tidak terjatuh ketika berjalan ; tapi orang sehat dan sadar mampu berjalan sendiri tanpa perlu dituntun oleh siapapun.

Rahayu ...

By: Eddy Pranajaya

0 Response to "HIDUP TIDAK BUTUH PENILAIAN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel